29 Juni 2009 Dampak Pengganda Sektor Telekomunikasi Masih Rendah

Jakarta, Koran Jakarta – Dampak pengganda (multiplier effect) sektor telekomunikasi bagi perekonomian lokal ternyata masih rendah. Tercatat, untuk satu rupiah nilai investasi di sektor telekomunikasi hanya memiliki koefisien multiplier effect sebesar 1,83 kali.

“Riset itu dilakukan dua tahun lalu. Tetapi saya yakni sekarang ada kenaikan, meskipun belum besar. Jika pun ada peningkatan masih jauh dari ideal karena di luar negeri koefisiennya mencapai lima kali,” ungkap Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar di Jakarta, Minggu (28/6).

Basuki menjelaskan rendahnya tingkat koefisien multiplier effect tak dapat dilepaskan dari sektor telekomunikasi yang masih mengembangkan pasar downstream (ritel) dan meninggalkan upstream(supllier). “Di luar negeri, dua pasar tersebut bergerak bersamaan dan saling mendukung. Di Indonesia, masih berpikir berjualan ke ritel saja,” katanya.

Akibat dari terlalu fokus ke downstream, menurut Basuki, belanja modal dari operator banyak terserap ke luar negeri untuk membeli peralatan. “Nilai pasar industri telekomunikasi setiap tahunnya 100 triliun rupiah. Untuk negara ada sumbangan pungutan dari Universal Service Obligation (USO), tetapi jika pasar upstream digarap, tentu membuat roda perekonomian berputar lebih kencang,” jelasnya.

Basuki menjelaskan pemerintah sudah mendorong industri untuk bermain di manufaktur, di antaranya dengan mensyaratkan kandungan lokal dalam pembelanjaan modal. :”Dalam tender Broadband Wireless Access (BWA), pemerintah mensyaratkan penggunaan kandungan lokal untuk perangkat ke konsumen dan infrastruktur.” ■ dni/N-1

0 komentar: