09 Juni 2009 Harga lisensi WiMax dinilai terlalu mahal

Vendor lokal gencarkan uji coba perangkat

Oleh Fita Indah Maulani & Roni Yunianto
Bisnis Indonesia

Jakarta: Harga dasar penawaran (reserved price) tender broadband wireless accss (BWA) atau WiMax yang ditetapkan pemerintah dinilai terlalu mahal, sehingga sulit mencapai tujuan menghadirkan layanan Internet murah.

Sekjen Indonesia Wireless Broadband (Id-WiBB) Bambang Sumaryo Hadi menilai harga dasar penawaran cukup mahal sehingga tujuan untuk menghadirkan teknologi BWA murah bagi rakyat tidak tercapai.

“Menghitung reserved price dengan kebutuhan peralatan, hasil simulasi kami melihat harga jual masih Rp1 juta per konsumen. Dengan nilai tersebut, jarang ada konsumen ritel atau orang di luar kota besar yang mau berlangganan,” ujarnya kemarin.

Id-WiBB mengungkapkan apabila harga ditetapkan sebesar itu, skala ekonomi yang ingin dicapai oleh pemenang lisensi tidak akan tercapai, apalagi standar yang dipilih adalah teknologi 802.16d yang membutuhkan banyak base transceiver station (BTS) di suatu zona layanan.

Hasil riset Id-WiBB mencatat satu BTS existing saat ini hanya bisa melayani maksimal 40 pengguna. Untuk meraup banyak pengguna diperlukan banyak BTS yang menelan biaya investasi peralatan cukup besar.

Pemerintah mengadakan lelang ini untuk meningkatkan jumlah pelanggan pita lebar di Indonesia. Apabila ditetapkan seperti itu, lanjut Sumaryo, pihaknya melihat faktor harga menjadi jurang antara mimpi dan kenyataan.

Sumaryo mengingatkan dalam aturan lelang tidak diatur harga maksimum yang boleh diajukan.

“Kalau ada operator besar yang langsung memasang di semua zona dengan harga yang tinggi, operator kecil atau penyelenggara jasai Internet harus merelakan bid bond-nya (10% RP) hangus atau dicairkan jika tidak melanjutkan proses lelang,” ujarnya.

Namun, lanjutnya, kalau nekat ikut dan memang, kerugiannya akan lebih besar sehingga yang paling aman adalah tidak mengembalikan dokumen atau mundur.

Gunawan Wibisono, pengamat telematika dari Universitas Indonesia, berpendapat harga dasar penawaran tender WiMax sudah wajar, kecuali pada zona IV yang mencakup wilayah Banten, Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi sebesar Rp15,16 miliar per blok.

“Jakarta hitungannya terlalu mahal untuk berkompetisi di daerah seluas 600M² dengan layanan data lainnya seperti 3G. Apalagi penggunaan Internet di Kota ini dan sekitarnya sudah padat,” ujarnya.

Harga langganan Internet di wilayah Jakarta, lanjut Gunawan, diperkirakan sulit mencapai Rp200.000 per pelanggan per bulan dengan standar layanan akses 256 Kbps apabila harga dasar penawaran sebesar ini.

Juru bicara konsorsium WiMax Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Heru Nugroho mengungkapkan harga dasar yang sudah ditetapkan pemerintah akan jadi preseden buruk bahwa biaya komunikasi itu mahal.

“Negara kalau mau mencari pendapatan besar, biaya komunikasi harus dibuat murah, supaya ekonomi tumbuh dan berimplikasi pada pendapatan negara juga,” tegasnya.

Kesiapan vendor lokal
Sementara itu, vendor peranti lokal WiMax gencar melakukan pengujian perangkat WiMax 2,3 GHz dan 3,3 GHz baik di pusat maupun tingkat operator.

Gatot Tetuko, Direktur Technology Research Group (TRG) salah satu unit bisnis PT Indonesia Tower, mengatakan serangkaian uji yang didorong Dirjen Postel dan pengujian final di tingkat operator akan memastikan keandalan perangkat di pelanggan.

Pengujian tersebut antara lain dimaksudkan untuk melakukan penyesuaian dengan jaringan operator.

“Dalam waktu dekat kami siap melakukan set pengujian lagi di Divisi Riset Teknologi Informasi (RisTI) PT Telkom Tbk, jadi prinsipnya kami siap saja kapan pun dibutuhkan,” ujarnya kepada Bisnis.

Sementara itu, PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) tengah menjajaki proses persetujuan tipe (type approval) untuk perangkat WiMax.

Irfan Setiaputra, Dirut PT Inti menuturkan penjajakan kerja sama produksi perangkat WiMax dengan vendor asing dilanjutkan. “Saat ini masih dalam proses, yang jelas kami akan ikut berpartisipasi di arena WiMax.”
(ARIF PITOYO) (fita.indah@bisnis.co.id/roni.yunianto@bisnis.co.id)

0 komentar: