RIM didesak bangun pabrik di Indonesia
Oleh Muhammad Sufyan
Bandung, Bisnis Indonesia – Vendor ponsel merek lokal menilai komitmen Pemerintah Indonesia dalam mendorong pembangunan industri manufaktur ponsel dalam negeri sebatas konsep.
Oleh Muhammad Sufyan
Bandung, Bisnis Indonesia – Vendor ponsel merek lokal menilai komitmen Pemerintah Indonesia dalam mendorong pembangunan industri manufaktur ponsel dalam negeri sebatas konsep.
Danny Johanes, Operational Director Virtu-V, mengungkapkan pemegang ponsel merek lokal yang saat ini diperkirakan sedikitnya mencapai 50 merek tentu memiliki keinginan memiliki pabrik di Indonesia.
Pasalnya, kata dia, produksi sendiri akan membuat harga lebih terjangkau, sementara tenaga kerja anak bangsa bisa diberdayakan, sehingga kemanfaatan ekonomi dan sosial akan tercipta dengan sendirinya.
“Persoalannya kemudian, kita bisa lihat sendiri, bagaimana support pemerintah Indonesia membangun kemandirian ponsel nasional. Komitmen yang ada masih sebatas konsep,” katanya seusai peresmian Galeri Virtu-V di Bandung, akhir pekan lalu.
Menurut dia, konsep tersebut telihat dari adanya perbedaan implementasi atas komitmen yang telah dicanangkan. Banyak regulasi di lapangan yang tidak selaras, bahkan menghambat rencana pembangunan tersebut.
Dia mencontohkan regulasi pemerintah awal tahun ini yang menunjuk sebuah lembaga surveyor yang harus digunakan perusahaan yang akan membangun pabrik, di mana pabrik baru bisa dibangun jika lolos survei lembaga itu.
Bagi kalangan manufaktur, aturan baru ini dinilai hanya menghabiskan waktu, sebab standar pabrik, apalagi yang berbasis elektronik, dengan sendirinya akan menerapkan standar yang ketat demi kesempurnaan produk.
Indonesia Telecommunication User Group (Idtug) menegaskan vendor asing seperti Research in Motion (RIM) harus membangun pabriknya di Indonesia, atau paling tidak membuka kantor pelayanan pelanggan.
“Hal tersebut sebagai upaya mencegah kerugian pelanggan BlackBerry di Tanah Air,” ujar Sekjen Idtug Muhammad Jumadi, kemarin.
Organisasi itu mendesak regulator dan operator bersama-sama mendorong RIM untuk membuka pabrik di Indonesia agar pengguna mendapat kemudahan apabila kelak mendapat masalah purnajual.
Selain itu, lanjutnya, dengan semakin maraknya kloning PIN (personal identification number) BlackBerry dan IMEI karena banyak produk dari black market (BM) dan para pengganda PIN yang tidak bertanggung jawab, Idtug menyarankan kepada pengguna untuk lebih berhati-hati dan jangan sekali-kali membeli BlackBerry tersebut.
“Regulator di minta mengawasi kecurangan-kecurangan yang merugikan pengguna dan jangan sampai malah BlackBerry BM dapat sertifikasi dengan alasan apa pun karena dipastikan pengguna akan dirugikan,” tuturnya.
Proteksi produk
Idtug meminta RIM mengambil tindakan bijak tetapi tegas bagaimana cara memproteksi agar PIN tidak bisa dikloning dan untuk hal yang sudah terjadi adalah bukan kesalahan pelanggan.
Sebelumnya, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akan memanggil vendor peranti genggam global RIM dan Apple (iPhone) agar memasukkan unsur kandungan lokal di pasar Indonesia.
Anggota BRTI Heru Sutadi menegaskan semangat mengembangkan produk lokal sudah dimulai pada penggelaran tender WiMax.
“Yang menjadi concern regulator adalah agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk vendor asing seperti BlackBerry dan iPhone. Penjualan kedua produk tersebut sangat signifikan di Indonesia,” tegasnya.
Regulator meminta vendor global seperti RIM dan Apple perlu mendirikan kantor cabang, research and development, dan bahkan pabrik di Indoneisa untuk transfer teknologi dan memasukkan kandungan lokal. (ARIF PITOYO) (muhammad.sufyan@bisnis.co.id)


0 komentar:
Posting Komentar