05 Juni 2009 Internet perdesaan disenergikan

Depkominfo dapat bantuan Bank Dunia US$1,9 juta

Oleh Fita Indah Maulani
Bisnis Indonesia

Jakarta: Pemerintah akan mengintegrasikan proyek Internet perdesaan yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pos & Telekomunikasi dan Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika Depkominfo.

Kepala Balai Telekomunikasi Informasi Perdesaan (BTIP) Ditjen Postel Santoso Serad mengatakan warung Internet (warnet) yang akan dibangun Ditjen Aptel merupakan hal yang berbeda dengan tender Internet kecamatan yang akan digelar oleh Ditjen Postel dalam waktu dekat.

“Insya Allah persiapan tender Internet kecamatan akan mulai dilakukan Juli, setelah kami mendapatkan pemenang tender telepon perdesaan atau USO [universal service obligation],” ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Bank Dunia, sebagai lembaga administrator untuk Global Partnership on Output-Based Aid (GPOBA), memberikan bantuan grant sebesar US$1,9 juta kepada Pemerintah Indonesia melalui Ditjen Aptel untuk penyediaan akses Interent di daerah terpencil.

Bank dunia menyiapkan dana tersebut untuk memfasilitasi pembangunan penyediaan akses Internet dan layanan lain yang terkait dengan jasa telekomunikasi untuk masyarakat yang tinggal di daerah terpencil di Pulau Jawa dan Sumatera.

Dirjen Aptel Cahyana Ahmadjayadi mengatakan target bantuan tersebut searah dengan upaya pemerintah untuk memungkinkan agar informasi dapat lebih diakses oleh masyarakat yang tinggal di daerah-daerah terpencil.

“Dengan terbukanya akses informasi, kegiatan perekonomian di daerah terpencil akan memperoleh kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi dan keterbukaan bisnis,” ujarnya.

Meski berwujud bantuan, pemerintah tidak akan menggratiskan akses Internet dari warnet tersebut, Cahyana menilai tetap ada model bisnisnya.

Cahyana memastikan dengan proyek yang berbeda di bawah naungan ditjen berbeda, apa yang dilakukan Ditjen Aptel dan Ditjen Postel saling bersinergi untuk kepentingan masyarakat di perdesaan dalam memperoleh akses informasi.

Program warmasif
Mengenai pengembangan community access points (CAP) sebagai salah satu proyek GPOBA, sebetulnya Ditjen Aptel selama ini sudah melakukan melalui program warmasif.

Warmasif adalah suatu model pengembangan CAP yang merupakan sebuah outlet di mana masyarakat yang berada di suatu wilayah dapat melakukan komunikasi, akses informasi global, pemasaran melalui Internet, transaksi online dan akses perpustakaan digital.

CAP akan menyediakan jasa akses Internet, telekomunikasi, dan fasilitas komputer, serta program pelatihan akses Internet untuk masyarakat yang tersebar di 222 pusat kecamatan, sebanyak 110 di antaranya tersebar di Lampung, 112 berada di Jabar dan Banten.

Seluruhnya dilakukan di tiga provinsi dengan jumlah penduduk sekitar 10 juta penduduk.

Pendanaan GPOBA kali ini adalah dari Australian Agency for International Development dan the Swedish International Development Cooperation Agency.
(ARIF PITOYO) (fita.indah@bisnis.co.id)

0 komentar: