Kapasitas Telkomsel dan Telkom masih memadai
Bandung, Bisnis Indonesia – Sejumlah operator telepon seluler menambah perangkat pada menara pemancar telekomunikasi sebagai cara untuk meningkatkan kapasitas, di tengah sulitnya memperoleh izin pembangunan base transceiver station (BTS) yang baru.
Bandung, Bisnis Indonesia – Sejumlah operator telepon seluler menambah perangkat pada menara pemancar telekomunikasi sebagai cara untuk meningkatkan kapasitas, di tengah sulitnya memperoleh izin pembangunan base transceiver station (BTS) yang baru.
Eddy Rizal, Head of Technical Division PT Indosat West Java Regional Office (WJRO), mengungkapkan operator GSM tersebut harus mengeluarkan investasi hingga miliaran rupiah untuk pengadaan ratusan perangkat pengendali trafik yang disebut DCS (Digital Communication System), karena sulit memperoleh izin pembangunan menara baru.
Dengan harga sekitar Rp800 juta per unit, perangkat yang beroperasi pada frekuensi 1800 MHz ini bisa menampung trafik yang tidak tertampung pada frekuensi inti 900 MHz.
“Selain menerapkan menara bersama dengan operator lain dalam jumlah yang belum begitu banyak, implementasi DCS ini bisa menyiasati problem trafik yang tinggi di wilayah yang sulit mendapat izin BTS,” katanya kepada Bisnis, kemarin.
Dengan asumsi dari tiga menara diletakkan satu DCS, lalu lintas suara dan pesan singkat yang sulit ditangani oleh dua menara yang berada di sekitarnya, otomatis akan dialihkan kepada perangkat impor tersebut.
Peralihan frekuensi ini tidak akan menyebabkan gangguan komunikasi, karena sebagian besar ponsel di Indonesia bisa beroperasi pada dua hingga empat frekuensi (quadband), sehigga pengalihan frekuensi pada perangkat terjadi secara otomatis.
Di Indonesia, rata-rata perangkat ponsel GSM yang dijual di pasaran bisa beroperasi pada frekuensi 450 MHz, 900 MHz, 1800 MHz, serta 1900 MHz.
Eddy melanjutkan pihaknya menggunakan DCS buatan Nokia Siemens Network maupun Ericsson, yang ditempatkan pada di wilayah dengan kepadatan trafik yang tinggi, seperti Sukabumi dan Cianjur.
“Meskipun harga DCS hampir mendekati harga pembangunan BTS, kami tetap melakukan itu demi kepuasan pelanggan,” sambungnya.
PT Indosat WJRO mengklaim sudah menerapkan sekitar 200 DCS di seluruh Jabar, dengan konsentrasi pada wilayah inti kota besar (inner city), misalnya, di Sukabumi, Bandung, dan Cirebon.
Menurut dia, pihaknya lebih memilih menempatkan perangkat DCS dibandingkan dengan menggunakan menara bersama. Sebab investasi yang dikeluarkan tidak sebanyak dan serumit pola kerjasama menara bersama.
Masih memadai
Sementara itu, GM Sales and Customer Service PT Telkomsel Jabar Daniel Azhari menilai penambahan BTS belum terlalu krusial bagi peningkatan kapasitas jaringan Telkomsel saat ini.
“Penambahan BTS dibutuhkan untuk lokasi yang lemah secara kualitas seperti outer city atau pelosok. Tapi hal itu belum terlalu krusial,” katanya.
Dia menilai perangkat jaringan eksisting sebanyak 2.300 BTS masih cukup memadai bagi pelanggan Telkomsel Jabar yang mencapai 6,5 juta nomor.
“Kapasitas yang ada masih cukup besar untuk meng-cover 6,5 juta pelanggan, sehingga tidak masalah jika tidak ada penambahan BTS dalam waktu dekat,” katanya.
Kepadatan trafik, kata dia, hanya terjadi pada momen khusus seperti momen Lebaran dengan peningkatan jumlah panggilan dan SMS hingga 10 kali lipat kondisi normal.
Meski begitu, lanjutnya, Telkomsel tetap akan mengoptimalkan perangkat eksisting untuk meningkatkan kinerja jaringan sambil menunggu kepastian regulasi tentang BTS bersama.
“Optimalisasi lebih kearah peningkatan kualitas sehingga menghasilkan success call berupa kecepatan akses, bukan ke arah penambahan kapasitas.”
Muhammad Muaf, General Manager Commerce Flexi Area Jabar Banten, menyatakan pihaknya belum sampai membutuhkan implementasi perangkat seperti DCS karena jaringan yang ada masih sangat luas.
Dia menyebutkan satu menara Flexi memiliki cakupan hingga 6.000 pengguna, atau bisa dua kali lipat dibandingkan kinerja cakupan menara GSM.
“Kalau sekarang ada sekitar 350 menara Flexi, kami bisa layani hingga 15 juta nomor, sementara jumlah pelanggan eksisting masih di bawah dua juta.”
Menurut dia, dengan situasi itu, pihaknya belum membutuhkan menara bersama, kecuali jika wilayah yang hendak dilayani berada di areal yang baru ditangani anak perusahaannya, PT Telkomsel. (K39)(muhammad.sufyan@bisnis.co.id)


0 komentar:
Posting Komentar