29 Juni 2009 Pembangunan Menara BTS Distop Hingga 2011

Jakarta, Republika – Hingga 25 Juni 2011 tak akan ada penambahan menara telekomunikasi yang baru di Yogyakarta. Operator akan mengoptimalkan menara telekomunikasi yang ada melalui pola menara bersama.

Kesepakatan penghentian sementara pembangunan menara telekomunikasi merupakan kesepakatan bersama antara Pemerintah Kota Yogyakarta dan asosiasi telekomunikasi seluler Indonesia (ATSI). Kesepakatan ini tertuang dalam nota kesepahaman yang ditandatangani Wakil Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, dan Ketua Umum ATSI, Merza Fachys, di Yogyakarta, akhir pekan lalu.

Pemkot Yogyakarta dan ATSI juga sepakat untuk tidak melakukan perobohan menara. Pemkot Yogyakarta akan memfasilitasi operator untuk menyelesaikan izin pembangunan menara yang telah dibangun.

Namun demikian, apabila terjadi pelanggaran terhadap ketentuan yang ada, ATSI diminta menyelesaikan melalui mekanisme internal. Apabila ATSI tidak sanggup menyelesaikan Pemkot Yogyakarta yang akan turun tangan.

Kesepatakan lain adalah optimalisasi menara BTS yang ada dengan memperhatikan perluasan coverage, efisiensi dan estetika. Disepakati menerapkan menara bersama di Yogyakarta.

Baik Haryadi maupun Merza mengaku gembira dengan tercapainya kesepakatan ini. “Kesepakatan tercapai setelah melalui serangkaian dialog sejak tahun 2007,” kata Haryadi.

Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar yang menyaksikan penandatangan nota kesepahaman mengaku gembira. “Ini bisa menjadi rule model bagi daerah yang lain.”

Nota kesepahaman Yogyakarta, kata Basuki, bisa menjadi rujukan para pihak mengenai implementasi SKB tentang menara bersama. Sekaligus merupakan langkah awal mencegah munculnya konflik antara operator dan pemerintah daerah.

Konflik antara operator dengan pemerintah daerah terjadi antara lain di Kabupaten Badung. Menyusul perobohan lima menara BTS. Kasus ini kemudian memicu heboh nasional.

Pemkot Yogyakarta sendiri berencana merobohkan menara BTS yang tidak memiliki izin. Namun, keputusan itu urung dilakukan Pemkot Yogyakarta.

Menurut Haryadi, untuk merobohkan menara BTS dibutuhkan biaya Rp70 juta per site. “Setelah kami melakukan pengkajian, biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan. Karena untuk satu menara BTS pendapatan kami hanya Rp1,25 juta.” ■ tar

0 komentar: