Oleh Imam Ghozali dan Encep Saepudin
Investor Daily
Jakarta – PT Excelcomindo Pratama (EP) bertekad menggesar PT Indosat sebagai operator seluler terbesar kedua di Indonesia. Namun, Indosat berpendapat, peringkat itu bukan hanya ditentukan jumlah pelanggan dan BTS.
Pada akhir tahun lalu, operator XL itu telah memiliki jaringan base transceiver station (BTS) terbesar kedua di Indonesia dengan 16.500 BTS. Urutan pertama tetap dipegang Telkomsel dengan 27 ribu BTS. Sedangkan Indosat hanya memiliki 14.162 BTS.
Meski demikian, jumlah pelanggan XL yang sebanyak 25 juta per kuartal I-2009 masih dibawah Indosat yang memiliki 33,3 juta pelanggan. Sedangkan Telkomsel masih bertengger di puncak dengan 72 juta pelanggan.
“Target XL adalah menjadi operator terbesar ke dua di Indonesia. Bukan dalam jumlah pelanggan dan BTS, tapi dalam hal revenue. Peluang untuk mencapai itu masih terbuka luas,” kata Dirut PT EP Hasnul Suhaemi kepada Investor Daily di Surabaya, akhir pekan lalu.
Ia mengatakan, pada tahun ini pihaknya menargetkan bisa menambah empat juta pelanggan baru sehingga total pelanggan menjadi 30 juta. Untuk mencapai itu, operator yang mayoritas sahamnya dikuasai pengusaha dari Malaysia itu masih mengandalkan program promo tarif murah.
“Kami tetap mengusung konsep tarif murah dan memosisikan diri sebagai price leader di industri telekomunikasi Indonesia. Kami jadi driver tarif muah dan semua operator ikut-ikutan,” kata Hasnul.
Menurut Hasnul, tarif XL sudah tidak bisa diturunkan lagi dan XL akan bertahan pada tarif Rp0,01 atau tarif amat murah. Ini untuk memanjakan pelanggan. Program promo tarif itu terbukti berhasil meningkatkan jumlah pelanggan XL dari 15,5 juta pada akhir 2007 menjadi 26 juta pada akhir 2008.
Program tarif murah, menurut Hasnul, tidak memengaruhi kinerja keuangan perseroan. Pendapatan PT EP pada tahun lalu justru meningkat 45%, earning before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) juga naik 45%. “Dalam program tarif murah itu, kami tak semata mengejar tambahan pelanggan. Akan tetapi pelanggan yang berkualitas, yakni pelangganyang benar-benar memberi kontribusi pada kinerja perusahaan,” kata dia.
Pada kuartal I-2009, kinerja PT EP juga masih positif dengan pendapatan naik 10%, ketika pendapatan industri telekomunikasi nasional tumbuh 0 - 3 %, dan EBITDA turun 2% ketika industri turun 5%. Perseroan memang merugi akibat kurs, yang merupakan konsekuensi dari utang dalam dolar AS yang mencapai US$ 2,1 miliar.
“Kami masih optimistis dengan target dan proyeksi kami menjadi terbesar kedua dalam hal revenue. Di internal, kami juga lakukan beberapa kebijakan, termasuk merampingkan jumlah cluster dealer serta dealer yang jadi ujung tombak penjualan,” kata dia.
Hasnul mengakui, akibat krisis, balanja modal PT EP turun dari tahun lalu sebesar US$1,2 miliar menjadi separuhnya. “Penurunan capex tidak menghentikan langkah penetrasi yang dilakukan XL karena ekspansi yang dilakukan saat ini lebih pada penambahan kapasitas,” kata dia.
Sementara itu, Direktur Marketing Indosat Guntur S Siboro mengatakan, pihaknya tidak akan melepas begitu saja posisinya sebagai operator terbesar kedua di Indonesia. “(XL) mau nyalip bagaimana? Atau, pelanggannya (paling banyak)?” kata Guntur di Jakarta, Selasa (3/6).
Menurut Guntur, jumlah BTS dan pelanggan bukan ukuran untuk menentukan operator tersebut besar. “Yang lebih penting, bagi para pemegang saham adalah profitabilitas,” kata dia.
Sedangkan Direktur Utama Indosat Johnny Swandi Sjam menolak mengomentari target XL. “Harusnya Anda tanya ke XL, dong. Masa mereka punya rencana saya yang ditanya,” kata dia.


0 komentar:
Posting Komentar