15 Juli 2009 Bisnis Telekomunikasi

Penjualan Ponsel Kuartal II Membaik

Jakarta, Koran Jakarta – Penjualan telepon seluler (ponsel) selama kuartal II-2009 mulai membaik ketimbang kuartal IV-2008 dan kuartal I-2009. pemicunya adalah menguatnya nilai tukar rupiah serta pertumbuhan ekonomi yang stabil.

“Angka resminya belum keluar, tetapi dapat dipastikan tidak lagi negative growth,,” ungkap General Manager LG Mobile Communications Indonesia Usun Pringgodigdo di Jakarta, Selasa (14/7).

Sebelumnya, selama kuartal I tahun ini penjualan ponsel mengalami penurunan sebesar 25 persen jika dibandingkan periode kuartal III-2008. Sepanjang kuartal III tahun lalu, setiap bulannya vendor ponsel berhasil menjual 2,1 juta unit ponsel. Sementara selama kuartal I-2009 angka itu mengalami penurunan sebesar 525 ribu unit.

Usun menjelaskan melambatnya penjualan ponsel pada kuartal pertama akibat imbas krisis ekonomi dan turunnya nilai rupiah. Sementara pada kuartal kedua ini terdapat beberapa stimulus di luar makro ekonomi seperti liburan sekolah dan suksesnya penyelenggaraan pemilu. “Saat liburan sekolah banyak yang membeli ponsel. Jenis yang laku untuk segmen mid low,” jelasnya.

Menurut Usun, penjualan ponsel segmen mid low menguasai 60 persen pasar. ”Jika ingin menjual ponsel di Indonesia hanya dua pasar yang masih bergairah, mid low atau langsung ke high end,” katanya.

Tender BWA
Sementara itu, seluruh peserta yang mengikuti tender Broadband Wireless Access (BWA) masih bertahan hingga putaran kedua pada Rabu (15/7). “Sebanyak 21 peserta yang mengikuti tender masih bertahan dalam lelang yang menggunakan sistem e-Auction. Besok akan dimulai putaran kedua,” ujar juru bicara tender BWA, Iwan Krisnandi kepada Koran Jakarta, Selasa (14/7).

Dia mengatakan semua zona yang ditawarkan oleh pemerintah diminati para peserta. “Semua zona laku terjual. Masalah berapa harga yang ditawarkan tidak bisa dibuka. Hanya bidder yang tahu angka beredar,” katanya.

Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi mengakui sejauh ini perseroan masih konsisten membidik zona nasional dengan satu blok alias spektrum sebesar 15 Mhz. “Kami all out. Masalah harga belum bisa dibuka,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah enggan membuka jumlah zona dan blok yang dibidik. “Proses masih berlangsung, tidak elok dibuka sekarang,” katanya.

Depkominfo sendiri membagi frekuensi 2,3 GHz untuk BWA dan 15 zona di mana setiap zona ditawarkan dua blok frekuensi (1X15 MHz). Total harga penawaran dasar yang ditetapkan untuk semua zona adalah 52,35 miliar rupiah. Harga frekuensi termahal terdapat di zona 4 yakni Jakarta, Banten, Bogor, Tangerang, dan Bekasi senilai 15,16 miliar per bloknya. Harga termurah terdapat di zona 10 yang meliputi Maluku dan Maluku Utara yakni 45 juta rupiah. ■ dni/E-3

0 komentar: