Oleh Rizagana dan Encep Saepudin
Investor Daily
Jakarta - Proses tender lisensi untuk penyelenggaraan akses internet berkecepatan tinggi nirkabel (BWA) diganggu pihak tertentu yang mengharapkan imbalan uang. Ada yang mengatasnamakan pejabat Dijen Postel Depkominfo, bahkan ada kekhawatiran lain berupa ancaman dari hacker atau penjahat cyber.
Investor Daily
Jakarta - Proses tender lisensi untuk penyelenggaraan akses internet berkecepatan tinggi nirkabel (BWA) diganggu pihak tertentu yang mengharapkan imbalan uang. Ada yang mengatasnamakan pejabat Dijen Postel Depkominfo, bahkan ada kekhawatiran lain berupa ancaman dari hacker atau penjahat cyber.
Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo Gatot S. Dewa Broto mengatakan, beberapa hari terakhir ini, ketika proses tender BWA masih berlangsung, tim pelaksana tender BWA dikejutkan dengan informasi bahwa ada oknum yang mengatasnamakan pejabat Ditjen Postel dan Tim Seleksi Tender BWA yang bisa membantu peserta tender untuk memenangi tender. Informasi itu justru datang dari penyelenggara telekomunikasi tertentu.
“Seperti pola lama, modus operandinya menggunakan pola lama dengan memanfaatkan tender USO periode 2007. Pihak-pihak tertentu tersebut ternyata diindikasikan minta imbalan finansial dalam jumlah tertentu. Tindakan tersebut merupakan upaya penipuan,” kata Gatot di Jakarta, Selasa (30/6).
Gatot mengaku, informasi itu diperoleh dari penyelenggaraan telekomunikasi. Oleh karena itu, Depkominfo akan memproses informasi itu lebih lanjut untuk mencari tahu pelakunya. Yakni, dengan cara menelusuri informasi awal itu dari operator dan nama pejabat Ditjen Postel dan Tim Panitia Tender yang disebut-sebut. “Informasi awal itu tentu akan kami proses secara hukum. Tapi maaf, saya tidak bisa menyebutkan, informasi itu datang dari operator mana,” kata Gatot.
Ancaman Hacker
Sementara itu, juru bicara Konsorsium Wimax Indonesia (KWI) Heru Nugroho juga mengkhawatirkan tentang ancaman hacker yang bakal membobol komputer Panitia Lelang BWA Ditjen Postel Depkominfo. “Terus terang kami masih ragu dengan kesiapan tim TI pemerintah. Apakah mereka bisa mencegah kemungkinan ancaman hacker yang menggangu saat lelang berlangsung,” kata Heru Nugroho.
Berdasarkan pengalaman, jaringan pemerintah selalu dibobol oleh para dedemit dunia maya. Akan tetapi, Heru tidak menyegutkan tragedi mana yang membuat hacker tersebut sukses membobol komputer instansi pemerintah.
Dia mengingatkan, kecemasan para peserta lelang masih sebatas wajar. Pertama, baru pertama kali pemerintah menggelar lelang frekuensi secara online sehingga belum tahu kesiapan Depkominfo mengundang aksi dedemit maya itu. Kedua, kemungkinan para hacker berhasil membobol jaringan, sehingga mengganggu jalannya transaksi lelang atau malah membocorkan informasi penting seputar tender BWA itu. Ketiga, kemungkinan perubahan angka penawaran, sehingga bisa merugikan pemerintah dan peserta.
Keraguan juga menyelimuti benak Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom Tbk Rakhmat Djunaidi. Apalagi, kata dia, belum ada indikator keberhasilan maupun kegagalan yang bisa dijadikan pelajaran oleh pemerintah untuk mengatasi suatu insiden.
“Ini (lelang secara online) kan yang pertama buat pemerintah. Dan, kita belum tahu bagaimana nanti antisipasinya,” kata dia.
Pada prinsipnya, Bakrie Telecom siap mengikuti proses tender dalam model apa pun yang dilaksanakan pemerintah. Namun begitu, pemerintah juga perlu menjelaskan pada peserta agar peserta tidak dilanda kecemasan yang berlebihan.
Sementara itu, Vice President Public and Marketing Communication PT Telkom Eddy Kurnia menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan tender pada pemerintah. Telkom siap mengikuti prosedur sesuai yang diterangkan pemerintah.
Menanggapi kekhawatiran para peserta tender terhadap ancaman dedemit maya itu, Gatot mengatakan, pihaknya sudah mengantisipasi segala kemungkinan, termasuk peluang dedemit maya membobol komputer Tim Panitia Lelang BWA. “Sebelum kami luncurkan proses lelang ini, kami sudah lakukan simulasi. Mudah-mudahan, proses lelang ini berjalan lancar dan aman,” kata Gatot.
Pihak internal Departemen Kominfo, baik pejabat Ditjen Postel dan Tim Pelaksana Seleksi BWA, sejak awal melakukan pengawasan secara berlapis dan intensif agar prosedur tender BWA ini berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Proses tender BWA ini diharapkan rampung pada akhir Juli 2009.
Staf Ahli Menkominfo Harso Supono Supangat menjamin lelang melalui online bebas dari insiden. Pemerintah telah menyiapkan segalanya untuk antisipasi yang terburuk sekalipun. “Lho, ini masa kami putuskan begitu saja. Lelang ini tentu sudah kami persiapkan dengan matang,” kata dia.
Sejumlah ahli keamanan teknologi informasi (TI) dilibatkan untuk mencegah aksi dedemit dunia maya. Begitu pula jaringan telekomunikasi sudah dipersiapkan agar tender tidak terganggu dengan kelambatan akses atau insiden lainnya.


0 komentar:
Posting Komentar