3 Proyek Jadi Rebutan Vendor Telekomunikasi

Oleh Sutarno
Wartawan Bisnis Indonesia


Memotret bisnis dan pasar telematika nasional 2009 dapat dibidik dari dua bilik: teknologi informasi (TI) dan telekomunikasi. Dari kedua bilik tersebut, kita akan mendapatkan potret pasar bisnis telematika yang berbeda.

Di Indonesia, begitu juga di dunia, belanja di sektor telekomunikasi selalu jauh lebih besar dibandingkan dengan belanja TI.
Tahun lalu saja, nilai belanja TI nasional hanya US$ 2,4 miliar atau sekitar Rp 26,4 triliun atau kurang dari separuh belanja telekomunikasi yang oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia diperkirakan mencapai Rp60 triliun.

Belanja telekomunikasi tersebut meningkat 10% dibandingkan dengan belanja telekomunikasi 2007 yang mencapai Rp 50 triliun.
Bagaimana dengan proyeksi belanja telekomunikasi tahun ini ?. Boleh dibilang belum ada yang berani mematok angka, kecuali menduga-duga akan terjadi penurunan laju pertumbuhan.

Meskipun demikian, paling tidak ada tiga proyek yang akan membuat belanja telekomunikasi tahun ini ‘bergairah’ di tengah krisis ekonomi, yaitu proyek Palapa Ring, tender telepon pedesaan USO (universal service obligation), dan proyek jaringan WiMax.

Kendati diwarnai oleh mundurnya anggota konsorsium, Proyek Palapa Ring yang beranggotakan PT Telkom, PT Indosat, PT Excelcomindo Pratama, PT Bakrie Telecom terus menawarkan potensi belanja sedikitnya US$180 juta.
Adapun proyek telepon perdesaan USO tahun ini mulai direalisasikan untuk 31.000 desa setelah ditetapkan pemenangnya.

Yang agak sulit dipetakan adalah belanja jaringan WiMax, karena setiap operator akan menghitung lebih cermat lagi untuk memutuskan penggelaran jaringan WiMax.

Ditambah dengan ekspansi operator pendatang baru yang dituntut memperluas jaringan untuk menjaring banyak pelanggan, para vendor jaringan dan bisnis pendukung akan berebut kucuran dan belanja telekomunikasi tahun ini.

Dengan mengacu pada proyeksi Kadin tentang pertumbuhan belanja telekomunikasi tahun lalu sebesar 20%, proyeksi pertumbuhan belanja telekomunikasi tahun ini sebesar 5% cukup masuk akal dan merupakan angka paling moderat. Dengan kata lain, tahun ini setidaknya Rp63 triliun dana akan tersedot untuk belanja infrastruktur telekomunikasi.

Yang menarik justru peluang bisnis untuk jaringan WiMax. Penggelaran jaringan WiMax akan melihatkan peluang bisnis baru bagi integrator sistem ataupun pabrikan komponen elektronik dan telekomunikasi lokal.

Komponen dalam perangkat WiMax di antaranya mencakup chipset, PCB (plain circuit board), base station, serta perangkat microcell dan macrocell.
Pabrikan komponen elektornik lokal kini telah mampu memproduksi chipset peranti WiMax, sehingga kegiatan perakitan peranti WiMax berkandungan lokal tinggi sangat dimungkinkan.

Salah satu pabrikan komponen itu adalah PT Versatile Silicon Technologies yang telah mengembangkan produk chipset WiMax dengan merek dagang Xirka.
Penjualannya kepada para integrator sistem dilakukan melalui kerja sama dengan PT Dana Persada.

Kehadiran chipset buatan lokal akan memudahkan para sistem integrator untuk mengembangkan peranti WiMax yang akan mereka jual kepada operator pemilik jaringan WiMax.

Yang jelas, lingkungan untuk mendukung produksi perangkat WiMax buatan lokal sudah memadai untuk memasuki tahapan produksi massal.
Bukan tidak mungkin dari kegiatan produksi itu juga terkuak potensi untuk ekspor peranti WiMax ke negara berkembang.

Dominasi peranti keras
Beralih ke bilik teknologi informasi. Potret belanja TI nasional diwarnai oleh ketimpangan belanja di tiga komponen : peranti keras, peranti lunak, alih daya.
Data Asosiasi Peranti Lunak Telematika Indonesia (Aspiluki) menyebutkan harware atau peranti keras menyedot 80% belanja TI nasional 2008 yang mencapai US$2,4 miliar.
Pos belanja software (peranti lunak) menyerap 12% belanja TI, sedangkan sisanya 8% terserap untuk outsourching atau alih daya.

Bagaimana dengan potret belanja teknologi informasi tahun ini ? lagi-lagi, krisis keuangan menyebabkan para pelaku bisnis TI memotrek ulang peluang pasar TI Indonesia tahun ini.

Lembaga riset International Data Corporation (IDC) terpaksa harus merevisi target pertumbuhan menjadi penurunan. IDC memperkirakan belanja TI Indonesia tahun ini turun 0,9% menjadi US$2,37 miliar. Adapun belanja TI tahun lalu mengalami pertumbuhan 9% dibandingkan dengan belanja TI 2007.

Sekali lagi, para vendor peranti keraslah yang berpesta pora menikmati belanja TI nasional, karena perkiraannya masih mendominasi 80% belanja TI nasional. (sutarno@bisnis.co.id)

0 komentar: