Jumlah Usaha Wartel Susut 54,16%
Oleh Muhammad Sufyan
Oleh Muhammad Sufyan
Bandung, Bisnis Indonesia – Jumlah warung telekomunikasi (wartel) di Jabar saat ini tersisa 11.000 atau turun 54,16% dari jumlah dua tahun lalu 24.000 wartel, sehingga bisnis ini diproyeksikan mati dalam satu tahun ke depan.
Eddy A. Junaidi, Ketua Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia (APWI) DPD Jabar, mengungkapkan situasi itu terjadi akibat pertumbuhan seluler, sehingga jumlah pengusaha wartel pun tinggal 5.000 dari sebelumnya 8.000 pengusaha.
Dia menjelaskan pebisnis wartel yang masih bertahan pun adalah mereka yang menggunakan lokasi usaha miliknya sendiri, dengan jumlah karyawan tak lebih dari satu orang guna menekan biaya operasional.
“Rata-rata pendapatan satu wartel tidak lebih dari Rp3 juta, sementara itu, biaya operasional kadang bisa lebih dari itu. Jadi, saya lihat dalam satu tahun ke depan, bisnis ini bisa berakhir kalau tidak ada upaya penyelamatan,” katanya kepada Bisnis, kemarin.
Menurut Eddy, sekalipun sedang kesulitan, pihaknya tetap memperoleh porsi pembagian pendapatan lebih kecil dari PT Telkom. Pengelola wartel hanya dapat 30%, sisanya masuk kantong BUMN tersebut.
Padahal, lanjut dia, pengelola wartel layak dapat porsi sebaliknya jika melihat sumbangsih mereka sebelumnya. APWI mengklaim kemajuan bisnis Telkom periode lalu banyak disumbangkan dari lini wartel.
“Dulu itu, tahun 1990an, investasi jaringan baru Telkom bisa kembali modal hanya dalam 18 hari saja! Jaringan yang sama di perumahan harus menunggu dua tahun.”
Eddy menjelaskan pihaknya berharap PT Telkom selain mau mengubah porsi pendapatan tadi, juga mau memberikan bantuan lunak bergulir.
Bukan nostalgia
EGM PT Telkom Divre III Jabar-Banten menjelaskan pihaknya tidak mungkin mempertahankan bisnis yang tidak punya prospek, atau bahkan cenderung hanya menghabiskan biaya operasional.
“Kami pikir bisnis ini memang sudah tidak punya peluang. Coba saya tanya, Anda lebih sering menggunakan telepon rumah atau ponsel saat di rumah? Karyawan Telkom sekalipun, belum tentu lebih sering pakai telepon rumah.”
Karenanya, kata dia, yang harus dipikirkan pengusaha wartel seharusnya bukan perubahan alokasi pembagian pendapatan, namun justru harus mulai memikirkan perubahan bisnis yang sesuai perkembangan zaman.
“Lebih baik jualan kartu isi ulang Flexi, misalnya. Atau menambah fasilitas wartel dengan layanan warnet, yang jelas-jelas bisnis masa depan. Dalam bisnis, semua pihak harus realistis, bukan sekedar nostalgia.”
PT Telkom Divre III juga merasa sudah menyalurkan dana kemitraan dan bina lingkungan bagi pengusaha wartel.
0 komentar:
Posting Komentar