Oleh Arif Pitoyo
Jakarta, Bisnis Indonesia – Harga spektrum telekomunikasi seluler generasi ketiga (3G) di Indoneisa dinilai sangat murah, terutama dibandingkan dengan negara berkembang lainnya sperti India.
Jakarta, Bisnis Indonesia – Harga spektrum telekomunikasi seluler generasi ketiga (3G) di Indoneisa dinilai sangat murah, terutama dibandingkan dengan negara berkembang lainnya sperti India.
Amiati Rasyid, Ketua Center for Indonesia Telecommunications Regulation Studies (Citrus), mengatakan di samping jumlah penduduk, harga spektrum terkait erat dengan kebijakan pemerintah di setiap negara.
“Misalnya, di beberapa negara seperti jepang, lisensi spektrum diberikan secara gratis. Di Thailand, semua operator seluler harus bayar revenue sharing sebesar 20-25% dari pendapatan kotor setelah dipotong kewajiban bayar interkoneksi ke operator lain,” ungkapnya kepada Bisnis, kemarin.
Berdasarkan data Citrus, operator telekomunikasi di India sudah terbiasa degan tender dan bayar biaya lisensi sebagai up front fee dan revenue sharing yang dibayarkan kepada pemerintah setiap tahunnya demi mendapatkan alokasi spektrum.
Misalnya, untuk tender spektrum 3G, harga dasar penawaran mencapai US$400 juta per blok (2x5MHz) untuk mendapatkan cakupan layanan secara nasional. Selain itu, operator diwajibkan membayar annual fee sebesar 2% dari pendapatan kotor dipotong interkoneksi, mulai tahun kedua.
Apabila dibandingkan dengan Indonesia, lanjut Asmiati, untuk blok spektrum yang sama dengan cakupan nasional, harga dasar penawaran hanya sekitar US$10 juta dan annual fee hanya Rp160 miliar atau sekitar US$16 juta dengan harga flat selama 10 tahun.
“Berdasarkan GDP perkapita dan jumlah penduduk, India cukup relevan untuk dijadikan pembanding. Oleh karena itu, harga 3G spektrum di Indonesia masih sangat murah,” tuturnya.
Menurut Asmiati, annual fee (biaya tahunan) sebesar Rp160 miliar secara flat selama 10 tahun dinilai sangat kecil, terutama jika dibandingkan dengan pendapatan tiga operator besar Telkomsel, Indosat dan Excelcomindo Pratama.
Sumber Pendapatan
Di negara-negara maju, selama ini spektrum merupakan sumber pendapatan yang cukup berarti bagi pemerintah. Di Amerika Serikat, misalnya, tender spektrum 700 MHz (di luar TV broadcasting) yang dilakukan awal 2008, menghasilkan pendapatan sebesar US$19.6 miliar.
Di India, pendapatan pemerintah dari biaya frekuensi mencapai US$11 miliar dalam 5 tahun terakhir. Bahkan dari tender spektrum 3G, Pemerintah India berharap memperoleh pemasukan kepada pemerintah paling kurang US$8 miliar.
Di Indonesia, tutur Asmiati, biaya di muka dari 5 blok 2x5 MHz spektrum 3G hanya menghasilan sekitar Rp1,6 triliun atau sekitar US$133 juta dengan kurs Rp12.000.
“Untuk menghadapi persaingan teknologi WiMax, pemain-pemain GSM di seluruh dunia berusaha memperluas basis pelanggannya dengan investasi jaringan 3G dilakukan besar-besaran, sehingga wajar apabila ada operator di Indonesia yang membeli pita tambahan untuk memenuhi kapasitas,” tuturnya.
Selain Telkomsel, empat operator 3G keberatan membayar BHP frekuensi 3G sebesar Rp160 miliar per 5 MHz. Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia Heru Sutadi mengatakan apabila di negara lain ada yang memiliki harga pita lebih rendah, kemungkinan besar pasarnya lebih kecil dari Indonesia.
0 komentar:
Posting Komentar