06 April 2009 Panitia Tender WiMax Terbentuk

Vendor lokal fokus ke peranti jaringan

Oleh Muhammad Sufyan & Roni Yunianto

Jakarta, Bisnis Indonesia – Depkominfo telah membentuk panitia tender WiMax 2,3 GHz yang tengah mempersiapkan aturan tender dan akan diumumkan dalam waktu dekat.

Suhono Harso Supangkat, Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), mengatakan kepanitiaan tender sudah dibentuk 1 April 2009.

“Kami harapkan beberapa keputusan segera dapat kami tuntaskan beberapa waktu ke depan,” ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Keputusan tersebut diantaranya untuk menuntaskan proses alokasi frekuensi dan penyelenggaraan BWA di 2,3 GHz.
Gatot S. Dewa Broto, Kepala Pusat Infomasi dan Humas Depkominfo, menuturkan penentuan jadwal tender WiMax tuhun ini sudah tepat waktu dan sesuai dengan kesiapan industri nasional.

“Jika tidak ada perubahan, kami akan mengumumkan lelang selambatnya 19 April 2009 sesuai Keputusan menteri No. 04/2009,” ujarnya.

Menurut Gatot, harga spektrum WiMax belum diputuskan, karena Depkominfo tidak dapat memutuskan sepihak tanpa berkoordinasi dengan Depkeu.

Besaran harga spektrum per zona hingga penjadwalan tender akan menjadi satu paket keputusan yang tertuang dalam dokumen tender.

“Kami tidak akan menunda-nunda lagi rencana tender ini. Industri BTS dan CPE juga sudah kami perhitungkan kesiapannya sebelum kami terbitkan Keputusan Menteri terkait BWA,” tegas Gatot.

Pemerintah akan membuka tender WiMax di 15 zona, di mana setiap zona memiliki karakter berdasarkan kondisi sosial ekonomi masing-masing zona. Dengan demikian akan ada zona yang harga spektrumnya lebih tinggi dari zona yang lain.

Fokus ke BS
Pemerintah tidak perlu memaksakan pelaksanaan tender WiMax, mengingat kesiapan industri nasional dalam memproduksi peranti CPE (customer premises equipment) atau handset (ponsel) WiMax dinilai belum optimal.

Dimitri Mahayana, Direktur lembaga riset telematika Sharing Vision, mengungkapkan empat produsen WiMax dalam negeri yang ada saat ini, lebih konsentrasi mengembangkan peranti jaringan berupa base subscriber (BS) di bandingkan dengan membuat handset.

“Produsen yang sudah mengembangkan CPE pun menawarkan harga ritel diatas US$300 per unit. Ini terlalu mahal bagi masyarakat, sekalipun kebutuhan masyarakat atas layanan broadband nirkabel lagi tinggi-tingginya,” katanya di Bandung, akhir pekan lalu.

Saat ini terdapat empat produsen peranti WiMax nasional, yaitu PT Hariff Daya Tunggal Engineering (Hariff DTE), PT Technology Research Group (TRG), PT Inti, dan PT LEN Industri.

Sharing Vision mencatat pengguna eksisting Internet kecepatan tinggi nirkabel di Indonesia berkisar 6 juta orang. Survei yang dilakukan lembaga itu pada Januari 2009 menunjukkan pula 91% dari 100 responden ingin CPE WiMax gratis dari operator.

Dengan melihat situasi itu, lanjut Dimitri, maka diperlukan unit perangkat akhir dalam jumlah banyak dari produsen dalam negeri (sedikitnya 1 juta unit), agar misi pemberdayaan industri nasional yang diinginkan pemerintah selama ini akan tercapai.

“Karena itu, sekalipun dokumen tender harus diumumkan pada 19 April ini atau 3 bulan setelah keluar Permen WiMax, kami meminta Depkominfo terlebih dulu menginformasikan dengan jujur kesiapan produksi CPE industri lokal ini,” katanya.

Apabila belum siap, tender tidak perlu dipaksakan digelar bulan ini.
Lebih baik, lanjut Dosen Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, dilakukan analisis kesiapan dan mengumpulkan komitmen industri.
(muhammad.sufyan@bisnis.co.id/roni.yunianto@bisnis.co.id)

0 komentar: