Rugi kurs Rp1 triliun dan biaya pensiun dini gerus laba bersihOleh Pudji Lestari & Roni Yunianto
Jakarta, Bisnis Indonesia – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) melalui divisi usahanya Telkom Flexi membuka diri untuk menerima proposal penawaran akuisisi terhadap operator telepon berbasis code division multiple access (CDMA) lainya.
Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengatakan divisi tersebut juga merupakan persiapan menuju konsolidasi pasar. Operator telekomunikasi di Indonesia terlalu banyak. Padahal, dibanyak negara jumlahnya kian berkurang sebagai hasil konsolidasi antaroperator.
Di China, operator telekomunikasi hanya tiga, India ada enam hingga tujuh perusahaan, sedangkan di Tanah Air ada 10-11.
Menurut dia, dengan karakteristik bisnis telekomunikasi yang padat modal karena memerlukan pembangunan infrastruktur dan spektrum frekuensi yang terbatas, idealnya hanya ada lima-enam operator, sedangkan untuk CDMA idealnya satu saja. Hal ini karena industri telekomunikasi didominasi oleh GSM dan total pangsa pasar CDMA di dunia hanya 20%.
“Kami tidak dalam posisi agresif [untuk membeli operator CDMA lainnya]. Namun, kami terbuka meskipun sampai saat ini belum ada proposal penawaran [untuk berkonsolidasi dengan Flexi]. Selama itu cocok dan bagus kenapa tidak ?” ujarnya saat berkunjung ke redaksi Bisnis Indonesia, kemarin.
Pada tahun lalu, berkembang isu Telkom berminat untuk mengakuisisi saham operator telekomunikasi lain dalam rangka konsolidasi tersebut. Operator yang disebut-sebut a.l. PT Mobile-8 Telecom Tbk dan PT Bakrie Telecom Tbk.
Rinaldi menambahkan, Telkom mempunyai rencana akuisisi perusahan yang bergerak di bidang teknologi komunikasi dan informasi lokal pada tahun ini. Namun dia menolak merinci lebih jauh.
Terhitung per 1 April 2009, Flexi telah menjadi divisi mandiri yang nantinya secara bertahap akan terpisah menjadi unit usaha dalam bentuk perseroan terbatas.
Rinaldi juga mengatakan pendapatan usaha Telkom pada 2008 tumbuh tipis di bawah 5%, yang diproyeksi terjadi lagi pada 2009.
“Bisnis fixed line [telepon tetap] dan interkoneksi turun 14%, sedangkan seluler tumbuh di bawah 5%. Untuk broadband naik 100% dan bisnis enterprise tumbuh 30%.”
BUMN telekomunikasi itu pada 2007 membukukan pendapatan Rp62,49 triliun dan laba bersih Rp12,86 triliun. Konsensus analis yang dikompilasi oleh Bloomberg memperkirakan pendapatan Telkom tahun lalu menurun 0,43% menjadi Rp62,22 triliun dengan laba bersih 9,79% menjadi Rp11,60 triliun.
Laba Turun 7,93%
Namun, satu analis dari broker lokal menambahkan laba bersih Telkom tahun lalu terkoreksi 7,93% menjadi Rp11,84 triliun, sedangkan pendapatannya naik 3,1% menjadi Rp64,4 triliun.
Satu analis dari broker asing memperkirakan pendapatan Telkom tahun lalu tumbuh 7%, sedangkan laba bersihnya merosot 18,35% menjadi Rp10,5 triliun. “Laba BUMN itu tergerus rugi valas Rp1 triliun dan pengeluaran biaya untuk pensiun dini Rp800 miliar,” ujarnya.
Rinaldi menambahkan pelanggan seluler baru pada tahun lalu berjumlah 14 juta, sehingga total pelanggan dibandingkan dengan 2007 yang sebanyak 47,9 juta menjadi 61,9 juta pelanggan. “Laba turun karena tarif [seluler] turun hingga 70%, tapi fundamental lebih bagus dengan margin EBITDA [laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi] diatas 50%,” tutur Rinaldi.
Penurunan laba juga terjadi akibat adanya penyisihan biaya pensiun dini sebanyak 1,156 karyawan dari total 25.000 orang.
Perseroan juga membukukan rugi kurs akibat adanya utang berdenominasi mata uang asing senilai US$500 juta dan kenaikan biaya impor barang. Dia enggan menyebutkan kerugian tersebut. Telkom dijadwalkan memublikasikan laporan keuangan auditnya pada akhir bulan ini atau awal bulan depan.
Rinaldi juga mengatakan pada tahun ini Telkom berencana membelanjakan modal US$2,1 miliar atau setara dengan Rp24,15 triliun. Selain pendanaan dari pinjaman bank, Telkom juga menjajaki pembiayaan vendor. Saham Telkom kemarin ditutup naik 2,10% ke level Rp7.300 per saham. (Arif Pitoyo/Wisnu Wijaya) (pudji.lestari@bisnis.co.id)
0 komentar:
Posting Komentar