06 April 2009 'Periode Konsolidasi dan Merger'

Jakarta, Bisnis Indonesia – Kondisi ekonomi global sedang suram. Indonesia pun tidak terkecuali, termasuk industri seluler. Sebagai sebuah industri, pelaku bisnis seluler pernah menikmati boom bisnis ini. Bahkan, menurut catatan Ditjen Postel Depkominfo, pengguna seluler negeri ini sudah menembah angka 124,8 juta per September 2008.

Namun, boom itu kini sudah mulai meredup seiring dengan krisis itu. Apa yang harus disikapi stake holder sehingga industri tetap survive melewati masa krisis, Bisnis mewawancarai Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno, berikut petikannya.

Bagaimana kondisi pasar seluler saat ini ?
Operator kini berupaya untuk tetap survive pada masa krisis. Bila dilihat dari karakteristik pengguna seluler Indonesia, 70% merupakan pengguna prepaid dengan recharge pulsa Rp5.000-Rp20.000. Artinya, pengguna seluler merupakan pengguna low end. Pada 2007, tingkat pertumbuhan bisa mencapai double digit, tetapi kini di bawah single digit.

Sebenarnya, bagi operator besar tidak ada masalah dan masih mampu bertahan. Berbeda dengan operator menengah yang cukup menggerus margin, sementara biaya peroduksi naik. Itu disebabkan oleh tingkat curn rate pelanggan seluler mencapai 6%-9%.

Price war itu kini telah berhenti. Namun, soal pendapatan rata-rata per pelanggan [ARPU] sudah tidak penting lagi. Karena makin banyak pelanggan yang membeli voucher pulsa berdenominasi rendah sehingga menurunkan ARPU cukup signifikan.

Selain tetap melakukan inovasi dengan produk baru dan berupaya mempertahankan pelanggan yang ada, Telkomsel juga berupaya menggali potensi ceruk pasar yang leibh dalam lagi. Misalnya pasar komunitas. Ini strategi di tengah krisis.

Bagaimana dengan penetrasi ?
Pasar utama seluler berada di daerah Jawa. Realitasnya tingkat penetrasi di pulau ini sudah mencapai 100% meskipun secara nasional masih ada ruang, yakni 70%.

Dengan kondisi makroekonomi seperti saat ini, apa ada pengaruhnya terhadap capex operator seluler ?
Bagi pemain besar, mereka [operator] masih tetap mengeluarkan capex-nya. Namun tidak sebesar tahun lalu, di bawah Rp30 triliun. Telkomsel saja masih menyediakan dana investasi sebesar US$1,3 miliar.

Berhentinya perang tarif telah memberikan kesadaran bagi operator untuk bersaing dari sisi kualitas layanan dan kapasitas jaringan selain melakukan efisiensi. Investasi jaringan benar-benar dilakukan secara efektif. Telkomsel misalnya, juga menerapkan strategi sinergi parental [induk perusahaan] untuk meningkatkan kualitas jaringan. Semua itu tetap dalam koridor konsolidasi dalam konteks makroekonomi yang sedang krisis.

Bisa dikatakan tahun ini hingga 3 tahun mendatang, bagi oparator merupakan tahun konsolidasi dan merger. Saya prediksi pada periode itu hanya menyisakan 4-5 operator saja sebagai konsekuensi dari sengitnya persaingan.

Apa yang diharapkan operator dari Pemerintah di tengah krisis ?
Pemerintah sebaiknya perlu mengurangi keluarnya regulasi baru yang bersifat memberikan beban tambahan bagi operator. Misalnya soal biaya penggunaan (BHP) frekuensi dan menara bersama. Kami mengharapkan pemerintah memperhatikan usulan operator.

Menurut pandangan saya, pemerintah juga perlu memberikan insentif kepada operator yang melakukan pembangunan infrastruktur, seperti serat optik dan radio link. Insentif itu bisa dalam bentuk pembebasan bea masuk (BM) atau instrumen fiskal lainnya, seperti perpajakan.

Inilah yang perlu dikaji pemerintah karena industri seluler telah memberikan kontribusi, berupa pembangunan infrasturuktu berbasis teknologi informasi di negeri ini.

Pewawancara : Firman Hidranto

0 komentar: