Rakyat Merdeka – Di tengah persaingan dunia telekomunikasi yang ketat, Telkom Flexi dituntut mampu membuat terobosan-terobosan pemasaran.
Apalagi, dengan adanya perpindahan frekuensi Flexi dari 1900 ke 800 tentu banyak hal yang bisa dilakukan. Karena pilihan bagi konsumen lebih banyak. Menurut Firdaus, pangsa pasar CDMA untuk Flexi harus bisa digenjot.
Dia berambisi agar Flexi bisa mengungguli Esia yang getol melakukan penetrasi pasar baik dengan peluncuran produk baru maupun peningkatan jumlah pelanggan.
“Meski kami yang pertama, namun selama lima tahun kami mengalami banyak masalah di jaringan yang sangat terbatas. Yaitu masalah jaringan frekuensi yang masih 1900. Sedangkan operator CDMA lain sudah banyak yang memiliki frekuensi 800,” katanya.
Untuk mengejar ketinggalan tersebut, pihaknya akan menggelar program bazaar. Firdaus menuturkan, market share CDMA masih 50:50 jika dibandingkan dengan operator lain seperti Esia.
Saat ini, jumlah pelanggan Flexi di daerah Jakarta saja sudah mencakup tiga juta lebih. Dengan strategi atau jurus jitu yang bakal dikeluarkannya, dia menargetkan pelanggan hingga empat juta sampai akhir 2009.
Dia juga berencana membuat merek (brand) baru, karena saat ini brand-nya terkenal mahal. Namun setelah melakukan kegiatan bazaar, respons masyarakat terhadap produk Flexi mulai terbentuk.
Sedangkan untuk meningkatkan kualitas layanan, pihaknya akan meningkatkan atau menambahkan menara BTS (base transceiver station) di daerah. Jumlah BTS di daerah Jakarta Selatan ada 88 menara.
Selain menggelar even dan mengeluarkan produk baru, pihaknya juga melakukan kerja sama degan vendor ponsel lainnya, misalnya ZTE, Haier dan Nexian.
Dia menilai, sejauh ini respons terhadap produk yang ditawarkannya tidak ada masalah. “Ini terbukti, kami mampu menjual sekitar 2.200 ponsel per hari untuk area Jakarta Selatan. Kami yakin, akhir tahun ini akan mampu mencapai target dan meningkatkan market share,” katanya. *DIN
0 komentar:
Posting Komentar