Operator di Indonesia Idealnya Enam
Oleh Encep Saepudin
Jakarta, Investor Daily – Konsultan Frost and Sullivan memperhitungkan, jumlah operator telekomunikasi di Indonesia idealnya Cuma enam, bukan 11 operator seperti yang ada sekarang. Salah satu alasannya adalah kinerja operator di Tanah Air diperkirakan menurun 41% pada kurun 2008-2014.
Oleh Encep Saepudin
Jakarta, Investor Daily – Konsultan Frost and Sullivan memperhitungkan, jumlah operator telekomunikasi di Indonesia idealnya Cuma enam, bukan 11 operator seperti yang ada sekarang. Salah satu alasannya adalah kinerja operator di Tanah Air diperkirakan menurun 41% pada kurun 2008-2014.
Serikat konsultan yang mempunyai perhatian khusus pada bidang telekomunikasi dan bermarkas di Amerika Serikat (AS) ini memperkirakan akan mengalami gelombang merger dan akuisisi. Operator yang baru tidak akan kuat bersaing dengan operator besar yang sudah lebih dulu hadir di Persada ini.
“Indonesia idealnya hanya memiliki enam operator saja untuk memperebutkan ‘kue’ yang ada di sini,” kat Country Director Frost and Sullivan untuk Indonesia Eugene van de Weerd di Jakarta, akhir pekan lalu.
Perang tarif, menurut van de Weerd, tidak akan optimal kecuali operator menggunakan tarif yang sederhana, semisal tarif flat atau rata. Operator tidak dapat lagi hanya mengandalkan pemasukan dari layanan suara dan SMS, tetapi harus mulai menyediakan layanan lain.
“Operator harus lebih kreatif mencari fitur-fitur yang menarik. Justru dari sana pemasukan akan mengalir,” ujarnya.
Dirut PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Rinaldi Firmansyah ketika berkunjung ke kantor Investor Daily beberapa waktu lalu juga mengindikasikan hal yang sama. Bahwa jumlah operator di Indonesia idealnya lima atau enam buah.
“Kami percaya, dalam tahun ini juga ada satu atau dua oparator yang akan melakukan konsolidasi. Dan, hingga 2011, saya kira, jumlah operator di Indonesia idelanya tinggal lima operator saja,” kata Rinaldi.
Saat ini, jumlah operator di Indonesia ada 11 perusahaan, yakni PT Telkom, PT Telkomsel, PT Indosat, PT Excelcomindo Pratama, PT Bakrie Telecom, PT Mobile-8 Telecom, PT Smart Telecom, PT Hutchison CP Telecom, PT Natrindo Telepon Seluler, PT Sampoerna Telecom, dan PT Pasifik Satelit Nusantara.
Jumlah ini terlalu banyak dibandingkan Amerika Serikat (AS) yang Cuma empat operator, Australia yang semula empat kini tinggal tiga operator, Tiongkok ada tiga operator, India yang tadinya tujuh kini tinggal enam operator. Banyak negara hanya memiliki tiga atau empat operator telekomunikasi.
Sedangkan Ketua Komite Tetap Telekomunikasi Kadin Indonesia Johnny Swandi Sjam mengatakan, operator telekomunikasi saat ini dihadapkan pada perang tarif yang justru menekan pendapatan masing-masing penyelenggara telekomunikasi. Hal ini ikut menekan jumlah dana yang diinvestasikan untuk pengembangan kapasitas, jangkauan, dan produk baru.
“Karena itu, Kadin Indonesia mendukung langkah konsolidasi agar kondisi telekomunukasi menjadi sehat,” kata Johnny, yang juga dirut PT Indosat Tbk.
Sementara itu, Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) tidak secara tegas menyetujui wacana konsolidasi itu. “Hingga kini, asosiasi belum pernah mendengar adanya pertemuan pemilik operator untuk membicarakan penyatuan atau peleburan dua atau lebih operator. Asosiasi pun belum pernah dimintai saran atau nasehat oleh mereka untuk pengambilan kebijakan ini,” kata Sekjen ATSI Dian Saswarini.
Namun, Dian menyaranakan agar pemerintah melakukan kajian. Selain itu, ATSI juga mengharapkan, adanya regulasi yang lebih konsisten tentang limitasi kepemilikan asing ( dalam daftar negatif investasi/DNI) dan transfer licence jika ada perubahan kepemilikian.
Bakrie dan Mobile-8
Beberapa waktu lalu beredar isu bahwa pemilik dan manajemen PT Bakrie Telecom mengadakan pembicaraan serius dengan PT Mobile-8 Telecom. Namun, Presdir Bakrie Telecom Anindya Bakrie membantah kemungkinan operator Esia itu merger dengan operator Fren.
“Kalau pertemuan, di mana saja bisa terjadi. Sekarang saja kita lagi ketemuan dengan teman-teman,” kata dia
Anindya mengatakan, Bakrie Telecom masih fokus pada bisnis inti, yaitu mengembangkan dan memperkuat Esia di pasar. Karena itu, pihaknya belum berniat untuk melakukan merger atau akuisisi.
“Tidak ada alasan kami untuk melakukan merger ataupun akuisisi. Kinerja perusahaan cukup bagus, dan hingga akhir Desember 2008 kami sudah punya tujuh juta pelanggan lebih,” ungkapnya.
0 komentar:
Posting Komentar