Jakarta, Koran Jakarta – Industri telekomunikasi disarankan hanya memiliki empat titik interkoneksi (Point of Interconnection/POI) guna menghemat biaya berkomunikasi dan meningkatkan pelayanan bagi masyarakat.
“Saat ini semua operator memiliki POI dan berbasis pulau. Ini membuat tarif berkomunikasi masih mahal, khusunya jika antarzona,” ujar Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M Ridwan Effendi, Rabu (13/4).
Dikatakannya, jika melihat kondisi geografis dari Indonesia, empat titik interkoneksi secara terintegrasi cukup di pasang di Sumatera, Jawa (mencakup Bali), Kalimantan (mencakup Sulawesi) dan Papua. Hal ini berbeda dengan kondisi saat ini, yakni setiap operator memiliki POI yang membuat mahal di sisi investasi.
“Ini akan menjadikan hierarki panggilan lebih cepat dan tentunya menghemat biaya berkomunikasi,” kata dia.
Ridwan menuturkan hierarki panggilan adalah regional, provinsi, kabupaten, dan kecamatan. Jika dengan POI yang berlaku seperti sekarang, misalnya, diletakkan di Jakarta. Ketika pelanggan operator A menelepon operator B meskipun sama-sama di Jakarta, rute yang dilalui adalah Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ).
“Nah, yang harus dicari itu solusinya bagi operator. Jika semua POI diintegrasi, akan ada korban, yakni incumbent, karena semua STO harus di-update. Tetapi, jika dipertahankan seperti sekarang, pelanggan juga dirugikan. Jadi harus dicari solusi terbaiknya,” jelasnya. *dni/E-2
0 komentar:
Posting Komentar