Pendanaan Palapa Ring belum jelas
Oleh Fita Indah Maulani & Roni Yunianto
Jakarta, Bisnis Indonesia – Lelang prakualifikasi jaringan telepon perdesaan USO (universal service obligation) paket 1 dan paket 2 kurang diminati, karena hanya empat perusahaan yang mendaftar pada tahap pertama.
Oleh Fita Indah Maulani & Roni Yunianto
Jakarta, Bisnis Indonesia – Lelang prakualifikasi jaringan telepon perdesaan USO (universal service obligation) paket 1 dan paket 2 kurang diminati, karena hanya empat perusahaan yang mendaftar pada tahap pertama.
Santoso Serad, Kepala Balai Telekomunikasi dan Informatika Pedesaan (BTIP), tidak menampik jika ada tudingan tender USO paket 1 dan paket 2 tahun ini dianggap kurang menarik, tetapi pihaknya akan terus maju dan tetap optimistis.
“Kedua peserta yang telah dinyatakan lulus seleksi tidak perlu memasukkan dokumen kembali. Jika nanti tidak ada peminat lagi, ya tinggal kedua peserta ini langsung kami undang,” ujarnya kepada Binsis, kemarin.
Pemerintah melalui BTIP terpaksa kembali mengulang prakualifikasi lelang proyek USO paket 1 dan paket 2 mulai akhir pekan lalu, karena hanya dua peserta yang dinyatakan lolos seleksi.
Undangan lelang yang semula dijadwalkan mulai disampaikan hari ini terpaksa diundur karena proses prakualifikasi harus diulang.
Pemerintah memiliki aturan jika peserta yang lolos prakualifikasi kurang dari tiga, tahap tersebut dinyatakan gagal dan harus diulang.
Kedua paket tersebut masing-masing hanya diminati oleh tiga peserta. Total hanya empat perusahaan yang memasukkan dokumen prakualifikasi yaitu PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT Indonesia Comnet Plus, PT Transnetwork Communicatioan Asia, dan PT Barkatel Utama.
Dari keempat perusahaan itu, ditetapkan PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) dan PT Indonesia Comnet Plus sebagai peserta lulus prakualifikasi untuk paket 1 dan paket 2.
Sebenarnya pada masa prakualifikasi lalu, sebanyak sembilan perusahaan mendaftar untuk paket 1 dan 10 perusahaan mendaftar untuk paket 2. Namun pada pengembalian dokumen, hanya empat perusahaan yang memasukkan penawaran.
Beberapa pihak menyatakan kurang berminat mengikuti tender USO paket 1 dan paket 2, karena daerah yang ditawarkan sangat sulit dijangkau dan memerlukan biaya investasi cukup tinggi.
Santoso mengakui diperlukan biaya logistik dan transportasi lebih besar untuk kawasan di kedua paket itu.
Pendaaan Palapa Ring
Sementara itu, masalah dana tambahan untuk proyek Palapa Ring masih serba tak menentu, kendati ada wacana untuk menggali dana dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).
Gatot S. Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo, menuturkan belum ada kepastian Palapa Ring masuk dalam prioritas infrastruktur strategis atau akan mendapat dukungan paket stimulus yang akan diberikan melalui PT SMI.
“Kami belum tahu pasti, apakah infrastruktur telekomunikasi yang dimaksud PT SMI itu untuk Palapa Ring atau bukan karena yang memutuskan Menko Perekonomian,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.
Menurut Gatot, jika Palapa Ring masuk menjadi bagian program PT SMI, Depkominfo akan menyambut positif. “Kami akan welcome, tetapi sejauh ini memang belum ada perkembangan di Palapa Ring,” jelasnya.
Adapun pembiayaan dari pembentukan ICT Found, tuturnya, masih berupa wacana karena belum jelas sumber pendanaannya. (fita.indah@bisnis.co.id/roni.yunianto@bisnis.co.id)
0 komentar:
Posting Komentar