23 Agustus 2009 Desa Internet: Komputernya mana?

Oleh Fita Indah Maulani
Wartawan Bisnis Indonesia

Bisnis Indonesia (21/08/2009) – Janji pemerintah bahwa Internet akan masuk seluruh desa pada 2010 sebenarnya bukanlah hal baru, karena baik Menkominfo Muhammad Nuh maupun Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar barulangkali mengungkapkan bahwa 2009 dicanangkan sebagai desa berdering dan 2010 sebagai desa pintar.

Namun, apabila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengungkapkannya di hadapan DPD, lain ceritanya.

Dalam pidatonya di hadapan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Rabu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat membuat janji soal teknologi informasi. Presiden berjanji Internet bisa masuk seluruh desa di Indonesia pada 2010.

“Khusus untuk telekomunikasi, diharapkan pada tahun depan, seluruh desa dan kecamatan telah terhubung dengan infrastruktur informatika yaitu teleponi dan Internet,” ujarnya.

Hal tersebut sebenarnya sesuai dengan keinginan dan aspirasi Masyarakat Telematika (Mastel) Indonesia bahwa hal yang paling mendesak yang harus segera dilaksanakan pemerintah mendatang adalah penyediaan infrastruktur telekomunikasi dan Internet.

Ketua Umum Mastel Setyanto P. Santoso menilai pemerintah harus menyediakan infrastrutur dalam bentuk wireless broadband hingga ke rumah-rumah (last mile).

“Pemerintah seharusnya mendorong tumbuhnya industri telematika dalam negeri dengan menyusun roadmap ICT Indonesia yang terintegrasi sehingga rakyat dan pebisnis tahu mau dibawa ke mana industri ini,” tegasnya.

Pemerintah, khsusnya Departemen Komunikasi dan Informatika, ternyata tidak hanya pandai mencanangkan target, karena langkah konkret sudah dilakukan. Di antaranya dengan memilih pelaksana proyek USO atau telepon perdesaan di tujuh paket pekerjaan yang dimenangkan Telkomsel (lima paket) dan Indonesia Comnet Plus (Icon+) dua paket.

Tender proyek USO tujuh paket ini sudah berjalan sejak tahun lalu dan berakhir bulan lalu.
Pengerjaannya kini hampir rampung di sebagian besar desa yang ditargetkan. Telkom bahkan sudah meresmikan layanan desa berdering di beberapa wilayah.

Apabila itu berjalan dengan sukses, paling tidak pembangunan di lima wilayah atau paket pekerjaan selesai, sebanyak 31.824 desa sudah terjangkau layanan telekomunikasi.

Depkominfo sendiri sudah menargetkan pengerjaan di lima paket wilayah selesai akhir tahun ini, dan pengerjaan di dua wilayah yang dimenangkan Icon+ paling tidak selesai awal tahun depan.

Desa Internet
Selesai dengan proyek USO untuk mengembangkan desa berdering, Depkominfo sejak beberapa bulan lalu telah memulai pembahasan lelang proyek untuk desa dengan fasilitas Internet atau disebut desa pinter.

Desa pinter ini akan menjangkau sekitar 4.700 kecamatan di seluruh Indonesia. Proses tender untuk proyek ini diperkirakan selesai tahun depan dengan pengerjaannya bisa segera dimulai sehingga pada akhir 2010 minimal sudah ada yang berjalan.

Lokasi pengadaan layanan Internet di 4.700 kecamatan saat ini sudah ditentukan. Perintah mengusahakan pemilihan lokasi paling strategis di sebuah kecamatan sehingga masyarakat mudah mengaksesnya.

Layanan akses Internet USO ini diharapkan bisa menjadi tempat pengenalan Internet dan komputer guna meningkat produktivitas dan pemanfaatan untuk peningkatan ekonomi di lingkungan setempat.

Jumlah kecamatan yang memperoleh akses Internet ini juga beragam. Misalnya, di Aceh sebanyak 220 kecamatan, Sumatera Selatan 157 kecamatan, Yogyakarta 13 kecamatan.

Sayangnya, pemerintah tak memiliki ukuran khusus mengenai kualitas Internet yang masuk ke perdesaan tersebut, perencanaan bisnisnya, termasuk masyarakat yang bisa menikmatinya. Jangan-jangan, hanya karena ada satu komputer yang bisa mengakses Internet di sebuah desa sudah disebut Internet masuk desa.

Apakah saudara kita di perdesaan harus berbondong-bondong layaknya nonton layar tancep untuk ramai-ramai mengerubuti satu layar monitor komputer?

Mereka yang berduit mungkin mampu membeli sendiri komputer lalu ‘dicolokkan’ ke Internet agar bisa berselancar di dunia maya. Masalahnya, apakah kompter menjadi prioritas kebutuhan mereka ketika masyarakat perdesaan sudah terlanjut bersentuhan dengan teknologi ponsel yang lebih murah meriah.

Lain lagi kalau mereka mendapat bantuan komputer, katakanlah setiap dusun atau RW (rukun warga), syukur-syukur satu RT (rukun tetangga) satu komputer.
“Komputernya mana Pak RT?”
(ARIF PITOYO) (fita.indah@bisnis.co.id)

0 komentar: