Vendor komputer siapkan 16 seri notebook WiMax
Oleh Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia
Jakarta (21/08/2009): Operator WiMax tidak memiliki rencana bisnis yang jelas untuk menggelar jaringan Internet pita lebar 16d di frekuensi 2,3 gigahertz (GHz).
Oleh Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia
Jakarta (21/08/2009): Operator WiMax tidak memiliki rencana bisnis yang jelas untuk menggelar jaringan Internet pita lebar 16d di frekuensi 2,3 gigahertz (GHz).
Mermanudin, praktisi WiMax (worldwide interoperability for microwave access) dari PT Indosat Mega Media (IM2), menegaskan teknologi 16d dengan frekuensi 2,3 GHz tidak masuk dalam hitungan rencana bisnis operator.
“Sebenarnya bukan masalah terlambat, tetapi teknologi 16d tidak cocok untuk tipe pelanggan nomadic [bergerak],” ujarnya kepada Bisnis kemarin.
Selain itu, katanya, performa jaringan juga kurang cocok untuk layanan komunikasi bergerak. Dengan demikian, jaringan yang terbangun tidak optimum, sehingga banyak keterbatasan di pelanggan dan operator yang pada akhirnya harga akan lebih mahal secara keseluruhan.
Di dunia saat ini terdapat tiga standar WiMax, yaitu 802.16, 802.16d, 802.16e, yang lebih sering dinamakan standar 16, 16d, dan 16e. Standar WiMax 16d memiliki dua varian, yaitu fixed (jaringan tetap) dan nomadic (jaringan bergerak). Adapun, standar 16e lebih difokuskan untuk mobile WiMax atau jaringan WiMax bergerak.
Sejumlah kalangan di Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI) menilai penawaran yang sangat tinggi membuktikan bahwa operator BWA tidak memiliki rencana bisnis yang jelas, apalagi dengan pita frekuensi yang hanya selebar 15 MHz, masih dikurangi untuk guard band.
Ketua FKBWI Barata Wisnu Wardhana mengungkapkan operator hingga saat ini belum memiliki rencana bisnis dan rencana jaringan yang memadai, karena tidak memperhitungkan harga kepelanggan, besar investasi, manajemen jaringan, dan pengembalian modal.
“WiMax di 16d memang kurang ekonomis, apalagi tahun depan sudah dikembangkan WiMax mobile atau 16e, sehingga pasti infrastruktur yang dibangun akan sia-sia,” tuturnya.
Pemerintah sendiri berencana menenderkan WiMax Mobile di 16e pada pita 2,3 GHz tahun depan, menunggu kesiapan penyedia perangkat lokal.
Dalam tataran dunia, WiMax Forum mengungkapkan pengunaan teknologi WiMax khususnya untuk kepentingan mobile (16e) diprediksi tumbuh pesat di Asia Pasifik dalam 4 tahun mendatang.
Lior Mishan, Direktur Bisnis WiMax Forum Asia Tenggara, mengatakan teknologi WiMax akan berkembang menjadi 133 juta pengguna pada 2012 dengan mayoritas pengguna berada di Asia Pasifik. “Pada 2008 jumlah pengguna teknolgi ini masih di bawah 40 juta,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Dia menambahkan hal ini bisa dilihat dari perkembangan penerapan teknologi tersebut di beberapa negara seperti Taiwan dan Indonesia. Di Taiwan, pasar teknologi ini meningkat dua kali lipat menjadi US$400 juta pada 2009 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Di Indonesia pemerintah baru menyelesaikan tender fixed WiMax untuk frekuensi 2,3 GHz dan di India akan mulai dilakukan pengembangan akhir tahun ini.
Sebanyak 123 jenis perangkat sudah terstandardisasi menggunakan teknologi ini, di mana sekitar 75% di antaranya memiliki 16e yang bisa digunakan untuk nomadic maupun mobile. Sekitar 40 perusahaan sudah memproduksi kartu PC, modem USB, netbook, notebook, dan aneka modem yang dilengkapi teknologi itu.
Notebook WiMax
Khusus untuk perangkat notebook dan netbook, sebanyak 16 pabrikan internasional telah memproduksi sekitar 40 model komputer jinjing WiMax. Ponsel pintar yang mengadopsi teknologi ini juga sudah diproduksi beberapa vendor global seperti Samsung, HTC, LG, dan Motorola.
WiMax Forum juga memproyeksikan nilai bisnis teknologi Internet pita lebar tersebut pada 4 tahun mendatang mencapai US$4 miliar atau meningkat empat kali lipat dibandingkan dengan pendapatan 2009 yang diproyeksikan US$1 miliar.
0 komentar:
Posting Komentar