Oleh Sutarno
Wartawan Bisnis Indonesia
Sebagian pelanggan telepon seluler mungkin akan bingun ketika disodori pertanyaan: di antara TELKOMFlexi (PT Telkom) dan Kartu As (PT Telkomsel), mana yang merupakan layanan telepon seluler alias ponsel.
Jangan disalahkan jika mereka menjawab keduanya sama-sama telepon seluler. Maklum, secara fisik kedua layanan itu sama-sama menggunakan handset, yaitu ponsel CDMA (code division multiple access) untuk TelkomFlexi dan ponsel GSM (global system for mobile communications) untuk kartu As.
Padahal, sejatinya keduanya memiliki lisensi yang berbeda. TELKOMFlexi sebenarnya merupakan layanan telepon tetap, sehingga disebut sebagai fixed wireless karena menggunakan telepon tanpa kabel. Adapun yang benar-benar memegang lisensi seluler adalah Kartu As, sama seperti lisensi untuk dua produk Telkomsel lainya, yaitu kartuHALO dan simPATI.
Akan tetapi, karena menggunakan handset atau telepon seluler sebagai terminal, keberadaan TELKOMFlexi menghadirkan fenomena tersendiri karena mampu menggantikan keberadaan telepon kabel konvensional di rumah. Bahkan untuk kantoran pun pelanggan tidak segan-segan mencantumkan nomor Flexi mereka sebagai contact number.
Itulah sebabnya, populasi pelanggan TELKOMFlexi mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan selama semester I/2009.
Menurut laporan keuangan PT Telkom per 30 Juni 2009 yang belum diaudit, jumlah pelanggan TELKOMFlexi hingga akhir Juni mencapai 13,5 juta nomor, sedangkan pelanggan telepon kabel hanya mencapai 7,4 juta nomor. Jika dibandingkan dengan pelanggan TELKOMFlexi semester I/2008, terjadi kenaikan 82% pelanggan.
Sebaliknya, popularitas layanan telepon kabel BUMN telekomunikasi itu makin memudar. Hingga akhir Juni 2009, Telkom hanya mampu mendongkrak 1% pelanggan telepon kabel dengan tambahan pelanggan sekitar 52.000 setahun atau sekitar 4.300 nomor per bulan. Bandingkan dengan tambahan pelanggan TELKOMFlexi yang mencapai 6,1 juta dalam setahun terakhir atau sekitar 508.000 pelanggan per bulan.
Omzet turun 19%
Kembali ke persoalan perbedaan TELKOMFlexi dan Kartu As, demikian juga dengan kartu HALO dan simPATI, dua layanan berbeda lisensi itu sama-sma berada dalam rengkuhan Telkom. Artinya kebingunan pelanggan tidak menjadi soal, karena toh mereka tetap menghadirkan pundi-pundi pulsa bagi BUMN telekomunikasi tersebut.
Akan tetapi, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa ‘kehidupan’ Telkom sebenarnya lebih banyak ditopang oleh kegiatan bisnis seluler Telkomsel sebagai salah satu anak perusahaannya. Dari omzet Telkom sebesar Rp30,67 triliun selama Januari-Juni tahun ini, sekitar 44,1% atau Rp13,53 triliun berasal dari kegiatan bisnis layanan seluler Telkomsel.
Pendapatan seluler itu meningkat Rp1,35 miliar atau 11,1% dibandingkan dengan omzet semester I tahun lalu. Sebuah pencapaian yang sangat melegakan mengingat ARPU (average revenue per user) atau belanja pulsa bulanan pelanggan turun sangat signifikan.
Selama semester I/2008, nilai ARPU pelanggan mencapai Rp63.000 per bulan, tetapi selama semesteri I tahun ini ARPU tersebut turun 25% menjadi Rp47.000. Penurunan ARPU tersebut terselamatkan oleh lonjakan pelanggan sebesar 45%.
Kondisi ini bertolak belakang dengan layanan seluler ‘semu’ yang diselenggarakan Telkom sendiri, yaitu TELKOMFlexi. Lonjakan pelanggan Flexi yang sangat fantastis sebesar 82% ternyata belum mampu mengangkat pamor bisnis layanan telepon tetap Telkom.
Selama Januari-Juni 2009, BUMN itu hanya mampu meraup omzet Rp4,26 triliun dari bisnis telepon tetap. Perolehan omzet itu turun 19% dibandingkan dengan omzet semester I/2008 yang mencapai Rp5,26 triliun.
Salah satu penyebab penurunan omzet telepon tetap itu mungkin antara lain karena Telkom masih menyatukan telepon kabel dan TELKOMFlexi dalam satu unit manajemen bisnis, sehingga BUMN itu kehilangan momentum untuk menikmati lonjakan pelanggan TELKOMFlexi.
Artinya kegiatan pemasaran TELKOMFlexi ditangani oleh 7 divisi regional (Divre) dengan jumlah karyawan sekitar 24.000 orang.
Telkom berencana memisahkan TELKOMFlexi menjadi unit bisnis yang terpisah. Gagasan itu pernah dilontarkan Presdir Telkom Rinaldi Firmansyah ketika berkunjung ke Bisnis akhir Maret lalu.
“Karena ingin lincah, dalam dua-tiga tahun ke depan kami akan lakukan konsolidasi di CDMA,” tuturnya waktu itu.
Pembentukan unit bisnis TELKOMFlexi itu tidak sekadar menjanjikan kelincahan manuver, namun yang justru lebih penting dari itu adalah agar pendapatan dari bisnis layanan ‘semiseluler’ tersebut tidak lagi tergerogoti oleh beban biaya dari kegiatan manajemen bisnis telepon tetap.
Rasanya tidak ada alasan bagi Telkom untuk tidak mempercepat realisasi rencana restrukturisasi kegiatan bisnsi TELKOMFlexi tersebut. (sutarno@bisnis.co.id)
0 komentar:
Posting Komentar