04 Agustus 2009 ‘Operator WiMax perlu disubsidi’

Tender 3 putaran rugikan operator kecil

Oleh Arif Pitoyo & Roni Yunianto
Bisnis Indonesia

Jakarta: Pemerintah didesak untuk memberikan subsidi kepada penyelenggara WiMax atau broadband wireless access (BWA) agar tercipta harga Internet murah kepada masyarakat.

“Dengan harga lelang yang sangat melambung akibat penerapan tender tiga putaran, maka penyelenggara pasti tidak mau rugi dan berfikir untuk menerapkan tarif yang tinggi kepada masyarakat,” ujar Sekjen Masyarakat Telematika (Mastel) Indonesia Mas Wigrantoro Roes Setiadi, kepada Bisnis, kemarin.

Salah satu tujuan putaran adalah harga lelang yang tinggi, tetapi tarif Internet murah, menurutnya, masih bisa tercapai apabila investasi jaringan, biaya operasi, dan harga bandwidth rendah meski hal itu tidak mungkin terjadi.

Wigrantoro memaparkan tarif Internet masih bisa rendah apabila investor tidak menargetkan keuntungan tinggi disertai pemberian subsidi oleh pemerintah.

Di sisi lain, anggota Dewan Penasehat Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Heru Nugroho mengatakan pemerintah hanya berpikir bagaimana mencari untuk sebesar-besarnya, salah satunya dengan menggelar tender BWA melalui tiga putaran.

“Sementara harga Internet yang murah yang katanya menjadi tujuan utama pemerintah bakal sulit terealisasi,” ungkapnya.

Departemen Komunikasi dan Informatika bakal menerima dana sebesar Rp877,28 miliar dari hasil lelang BWA atau WiMax di 15 zona yang berakhir 16 Juli.

Sejak awal sebelum tender digelar, sejumlah perusahaan jasa Internet dan operator telekomunikasi besar mengkhawatirkan harga lelang WiMax melambung sangat tinggi pada putaran terakhir dari harga dasarnya karena akan memicu rendahnya nilai komersial apabila sudah dijual ke masyarakat.

Ketua Komite Tetap Teknologi Informasi Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sylvia W. Sumarlin menilai harga WiMax dengan cakupan nasional sebaiknya tidak lebih dari Rp52,25 miliar agar tidak mendekati harga pita telekomunikasi seluler generasi ketiga (3G).

“Apabila harganya sampai lebih dari itu, bahkan mendekati Rp100 miliar, sudah tidak menarik lagi karena akan kalah bersaing dengan 3G yang memiliki kualitas akses lebih baik,” ujarnya.

Tiga putaran
Menurut eksekutif penyelenggara jasa telekomunikasi, pelaksanaan tender tiga putaran seperti pada tender WiMax sangat merugikan perusahaan kecil.

“Lembaga yang berwenang perlu mengaudit sistem tender tiga putaran seperti yang dilakukan Depkominfo pada tender WiMax karena selain harga akhirnya sangat tinggi, juga pemenang putaran pertama dan kedua menjadi tidak ada artinya,” tuturnya.

Seharusnya, katanya, pemenang tender putaran pertama dan kedua juga diperhitungkan dengan memberikan indeks kemenangan karena kalau tidak, maka tender seolah-oleh hanya satu putaran saja, yaitu putaran terakhir.

Menurut eksekutif yang juga aktif di Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tersebut, apabila hanya putaran ketiga yang diperhitungkan, seharusnya tidak perlu ada putaran pertama dan kedua.

Menanggapi hal itu, Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar mengungkapkan proses tender sudah berjalan secara baik dan transparan, jadi sebenarnya tidak ada persoalan lagi.

Pemerintah optimistis industri lokal mampu memenuhi tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang dipersyaratkan menyusul ketetapan seleksi penyelenggaraan jaringan WiMax.

Basuki mengatakan peranti WiMax yang dibuat bersama oleh manufaktur lokal dengan mitra vendor asing dengan syarat TKDN sebesar 30%-40% akan mampu bersaing di pasar nasional.

“Ada produk yang mirip-mirip tetapi saya yakin produk dalam negeri lebih murah,” ujarnya baru-baru ini.

Menurut Basuki, TKDN yang sesuai dengan ketentuan penggunaan di persyaratkan sebesar 30% untuk produk perangkat pelanggan (customer station) dan 40% untuk perangkat transmisi (base station) hanya soal waktu saja karena selama ini industri belum mencoba.

“Mereka mau investasi jika ada pasar, kepastian [pasar] inilah yang kami siapkan. Dalam keahlian kita tidak tertinggal meskipun riset dan pengembangan lebih sederhana,” ujarnya.

Dari sisi peluang pasar WiMax, Basuki menegaskan potensi daerah yang belum terjamah oleh ICT (information communcication teknology) di Indonesia luar biasa besar. “Belum lagi implementasi e-government, jadi masuk akal potensinya besar,” katanya.
(arif.pitoyo@bisnis.co.id/roni.yunianto@bisnis.co.id)

0 komentar: