Tampilkan postingan dengan label Indovision. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indovision. Tampilkan semua postingan

02 September 2009 Komunikasi Seluler

Operator di Jabar Siap Hadapi Masa Lebaran

Bandung, Kompas – Operator seluler di Jawa Barat siap menghadapi lonjakan percakapan telepon dan pengiriman pesan singkat (SMS) selama masa Lebaran. Persiapan dilakukan dengan peningkatan kapasitas layanan komunikasi seluler.

Manager Optimisasi PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) Anton Perwira Putra, Selasa (1/9) di Bandung, mengatakan, jumlah percakapan di luar masa Lebaran sekitar 30 juta panggilan per hari. Jumlah itu diperkirakan naik hingga 20 persen mulai H+3 hingga H+2.

Pada waktu yang sama, pengiriman SMS sekitar 16,25 juta pesan per hari diprediksi meningkat hingga 50 persen. Menurut Anton, upaya mengatasi lonjakan komunikasi dilakukan dengan meningkatkan kapasitas percakapan dan pengiriman SMS pada base transceiver station (BTS).

Kapasitas BTS XL di sembilan daerah ditingkatkan, seperti di Cirebon, Purwakarta, Tasikmalaya, Indramayu, dan Subang. Di Jabar saat ini terdapat sekitar 1.400 BTS XL. Pada puncaknya, komunikasi seluler XL diperkirakan baru mencapai 70 persen dari kapasitas maksimal BTS.

General Manager Commerce Flexi Jabar-Banten Muhammad Mu’af mengatakan, pelanggan Flexi di Jabar sekitar 1,3 juta orang dan diperkirakan 420.000 orang di antaranya melakukan combo atau mengganti nomor telepon sementara karena pergi ke wilayah lain pada masa lebaran.

Lebih dari 500.000 nomor combo telah disiapkan. Combo diperkirakan ramai dilakukan mulai H-6 hingga H+7. kebanyakan pelanggan yang mudik itu, lebih kurang 140.000 orang, pergi dari Bandung ke Cirebon. Daerah lain yang banyak dituju adalah Tasikmalaya, Garut, dan Ciamis.

80 persen kapasitas
Deputi Executive General
Manager Flexi Judi Achmadi mengatakan, terdapat 13,7 juta pelanggan Flexi di Indonesia. Diperkirakan 30-40 persen dari jumlah itu melakukan combo. Sebagian besar daerah tujuan pelanggan ialah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Sejumlah pelanggan lain mudik ke Sumatera. Namun, jumlahnya tak sampai 10 persen. Combo bisa dilakukan di daerah tujuan,” kata Judi. Arus komunikasi pada masa Lebaran diprediksi baru menyentuh 80 persen dari kapasitas layanan panggilan dari SMS Flexi. (BAY)

Read more.....

01 September 2009 CSR Indovision

Indovision bagi Perangkat

Kontan – Kalau suatu saat nanti Anda berkunjung ke Pulau Sebatik yang terletak di Nunukan, jangan kaget kalau di sana banyak rumah dengan antena bertuliskan Indovision. Maklum, operator televisi berlangganan tersebut baru saja memberikan sejumlah perangkat televisi dan perangkat penyiaran Indovision ke penduduk yang tinggal di wilayah yang berbatasan dengan Malaysia itu.

Tujuan program ini adalah mempermudah akses penduduk Pulau Sebatik terhadap siaran televisi nasional. “Dengan Indovision, masyarakat Pulau Sebatik dapat menikmati seluruh tayangan TV nasional,” ujar Direktur Utama MNC Sky Vision Rudy Tanoesoedibjo.

Selama ini, mereka lebih mudah menyaksikan televisi Malaysia. Bahkan, penduduk Sebatik umumnya menentukan harga barang dalam ringgit Malaysia.

Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh yang turut dalam kegiatan itu mengatakan, fasilitas yang disediakan Indovision merupakan sabuk pengaman informasi bagi penduduk Indonesia di daerah terluar. “Bila mereka tidak memiliki penjagaan secara informasi, maka karakter dan budaya bangsa akan terganggu,” ungkap Nuh. Nadia Citra Surya

Read more.....

22 Mei 2009 Indovision wajib lapor Depkominfo

Sharing satelit belum diatur regulasi

Oleh Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo

Jakarta, Bisnis Indonesia – Asosiasi Satelit Indonesia (Assi) mendesak PT Media Citra Indostar (MCI/Indovision) untuk melaporkan kerja sama kondosatelit dengan Protonstar kepada Departemen Komunikasi dan Informatika.

Ketua Assi Tonda Priyanto mengungkapkan meski hal-hal terkait dengan kerja sama kondosatelit belum diatur dalam peraturan dan masih dalam bentuk draf permenkominfo, hal seperti itu sudah ada contohnya di dunia, yaitu antara Intersat dan Jc-Sat.

“Kami menilai kerjasama pemanfaatan satelit bersama di slot orbit Indonesia sebaiknya dengan perusahaan lokal, seperti yang akan Telkom lakukan dengan pengelolaan slot orbit 150,5°BT bersama Indosat dalam bentuk konsorsium,” ujranya kepada Bisnis, kemarin.

Konsorsium tersebut akan mengutamakan pemain lokal meski tetap membuka diri terhadap perusahaan asing asalkan disetujui Telkom, Indosat dan pemerintah.

Tonda mengungkapkan investasi dalam pengadaan satelit memang sangat besar. Besarnya investasi itu bisa dipecahkan dengan membuat satelit yang lebih besar untuk dimanfaatkan bersama dua atau lebih perusahaan.

Assi menilai pemerintah bersama MCI perlu duduk bersama mengungkapkan kondisi kontrak kerja sama yang sebenarnya agar tidak terjadi masalah pada kemudian hari.

Persoalan yang mungkin terjadi dari adanya kerja sama satelit itu adalah masalah pengelolaan slot dan kontrol satelit, mengantisipasi apabila satelit ternyata tidak tepat pada orbitnya, dan hal yang terkait dengan biaya hak penggunaan (BHP) slot orbit.

Tonda mengungkapkan BHP satelit dikenakan kepada operator yang menggunakan slot orbit milik Indonesia atau satelit yang menyediakan layanan di wilayah Tanah Air.

Praktik kepemilikan satelit campur asing sebenarnya lazim terjadi di Indonesia, seperti satelit Palapa Pacific 146 yang merupakan kerja sama antara PT Pasifik Satelit Nusantara dan Mabuhay Philippines Satellite Corporation (MPSC) bersama induknya, Philippine Long Distance Telephone Company (PLDT). Pemerintah membebankan biaya hak pengelolaan slot orbit satelit kepada PSN dan Mabuhay karena menggunakan slot orbit di Indonesia, sementara untuk persoalan Indostar, Depkominfo belum menegaskan kewajiban BHP kepada perusahaan AS. Eddy Setiawan, Sekjen Assi, mengatakan setiap kerja sama satelit yang menggunakan frekuensi Indonesia dengan pihak asing memang harus dilaporkan kepada pemerintah.

Modal besar
“Penggunaan satelit kan bisa melalui dua cara, beli sendiri atau patungan. Sayangnya harga satelit cukup mahal, sekitar US$250 juta sehingga perusahaan dengan modal terbatas memilih patungan dengan pihak lain,” ujarnya.

Eddy memaparkan sepanjang sepengetahuannya satelit Indostar II menggunakan pola kedua, yaitu patungan, sehingga wajar dikenai kewajiban BHP pada saat menggunakan frekuensi Indonesia.

Namun, lanjutnya, kewajiban ini bisa tidak berlaku jika perusahaan tersebut tidak melayani wilayah Indonesia meskipun jangkauan layanannya mencapai Indonesia.

Sateleit Indostar II merupakan satelit penyiaran Indovision yang berada di slot orbit 107,7° BT dan bekerja di pita frekuensi 2,5 GHz selebar 150 MHz. Satelit yang oleh Depkominfo diduga sebagai milik AS itu diperkirakan mampu melayani sekitar 120 kanal dengan teknologi MPEG-2 dan 140 kanal dengan teknologi MPEG-2 dan MPEG-4, akan melayani dua televisi berbayar, televisi lokal dan televisi berjaringan, serta radio-radio berjaringan. Corporate Secretary PT MCI Arya Mahendera mengatakan semua kontrol pengendalian satelit Indostar tersebut berada di Indovision. (fita.indah@bisnis.com/arif.pitoyo@bisnis.co.id)

Read more.....

20 Mei 2009 Indostar II dapat peringatan

Indovision kontrol operasional satelit

Oleh Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo

Jakarta, Bisnis Indonesia – Departemen Komunikasi dan Informatika mendesak pihak PT Media Citra Indostar (MCI) untuk memperjelas kontrak kerja sama dengan pihak perusahaan Amerika Serikat (AS) menyangkut keberadaan satelit Indostar II agar tidak terjadi masalah pada kemudian hari.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo Gatot S. Dewa Broto mengatakan pemerintah hanya ingin kontrak kerja sama antara MCI dan pihak AS jelas sehingga apabila ada konflik atau sengketa antara keduanyya, tidak melibatkan pihak pemerintah.

“Harapan pemerinah, dengan adanya kejelasan kontrak tersebut, slot satelit milik Indonesia tetap terjaga,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Satelit Indostar II merupakan satelit menyiaran Indovision yang berada di slot orbit 107,7° BT dan bekerja di pita frekuensi 2,5 GHz selebar 150 MHz.

Satelit yang oleh Depkominfo diduga sebagai pemilik AS itu diperkirakan mampu melayani sekitar 120 kanal dengan teknologi MPEG-2 dan 140 kanal dengan teknologi MPEG-2 dan MPEG-4, akan melayani dua televisi berbayar, televisi lokal, dan televisi berjaringan, serta radio-radio berjaringan.

Sebelumnya, MCI mengoperasikan satelit Cakrawarta I atau Indostar I yang mulai melayani masyarakat Indonesia sejak peluncurannya pada 1997.

Corporate Secretary PT MCI Arya Mahendra membantah keras bahwa satelit Indostar II yang baru saja diluncurkan merupakan milik AS. “Tidak benar. Semua kontrol ada di Indovision, bagaimana bisa jadi milik AS?,” tegasnya.

Menurut dia, yang benar adalah satelit tersebut bekerja pada dua band, yang satu adalah Ku-band yang dikontrol oleh Protonstar (perusahaan asal AS) untuk keperluan telekomunikasi, dan satunya adalah S-Band untuk keperluan penyiaran yang dikontrol penuh oleh Indovision.

MCI mengaku pihaknya sudah menyampaikan masalah kepemilikan satelit tersebut kepada pemerintah sehingga tidak perlu dipermasalahkan lagi.

Arya mengungkapkan pihaknya selalu menyampaikan nama satelit IndostarII/Protonstar dalam berbagai kesempatan presentasi kepada Depkominfo.

Sudah lazim
Praktik kepemilikan satelit campur asing sebenarnya lazim terjadi di Indonesia, seperti satelit Palapa Pacific 146 yang merupakan kerja sama antara PT Pasific Satelit Nusantara dan Mabuhay Philippines Satellite Corporation (MPSC) bersama induknya, Philippine Long Distance telepon Company (PLDT).

Pemerinah membebankan biaya hak pengelolaan slot orbit satelit kepada PSN dan Mahubay karena menggunakan slot orbit di Indonesia, sementara untuk persoalan Indostar, Depkominfo belum menegaskan kewajiban BHP tersebut kepada perusahaan AS.

Menurut Gatot, Telkom dan Indosat juga menggunakan satelit yang berkolaborasi dengan asing tetapi dengan metode kerja sama yang jelas.

Satelit Indonesia merupakan satelit yang didaftarkan ke International Telecommunication Union (ITU) atas nama administrasi telekomunikasi Indonesia.

Dalam eksistensinya, satelit-satelit Indonesia tersebut diselenggarakan oleh para penyelenggara satelit Indonesia yang meliputi PT Telkom Tbk, PT Indosat Tbk, PT Media Citra Indostar, PT Pasifik Satelit Nusantara, dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Sementara itu, daftar satelit Indonesia terdiri dari Palapa Telkom-1 (108°BT), Telkom-2, Telkom-3 (118°BT), Palapa C-2 (113°BT), Palapa Pacific 146°BT, Indostar II (107,7°BT), Garuda-1 (123°BT), dan satelit Lapan Tubsat. (fita.indah@bisnis.co.id/arif .pitoyo@bisnis.co.id)

Read more.....

04 Mei 2009 Indostar II Meluncur Pekan Ini, Indovision Bidik Satu Juta Pelanggan

Kontan – Setelah sempat tertunda, akhirnya PT MNC Sky Vision (Indovision) memastikan akan meluncurkan stetlit Indostar II, Kamis (14/5) depan. Satelit pengganti Indostar I yang telah kadaluarsa itu bakal diluncurkan dari Baikonur, Kazakhstan. “Indostar II akan bertugas selama kurang lebih 15 tahun,” ujar GM Sekretaris Perusahaan Indovision, Arya Mahendra Sinulingga, pada KONTAN, Ahad (3/5).

Dengan satelit baru itu, Indovision yakin bisa meningkatkan jumlah pelanggan hingga mencapai satu juta pelanggan di 2009 ini, naik di atas 108% dari angka tahun lalu yang baru 480.000 pelanggan.

Selain karena Indostar I telah memasuki masa pensiun, Indovision memang berniat ekspansi dengan meningkatkan kapasitas Indostar II. “Ini bukan sekadar satelit pengganti,” cetus Arya. Dengan satelit batu itu, nantinya jumlah channel Indovision naik dari 56 menjadi 120 channel.

Rencana peningkatan kapasitas yang telah didengungkan sejak akhir tahun lalu itu nyatanya memang telah mendongkrak popularitas Indovision. Jika di akhir 2008, jumlah pelanggan Indovision baru 480.000, pada kuartal I-2009 jumlah pelanggan sudah 540.000. “Begitu Indostar II mulai mengorbit, respon pasar tentu semakin positif,” imbuh Arya.

Artya optimistis, meski masih di tengah himpitan krisis, pada 2009 pertumbuhan pelanggan TV berbayar akan tetap tinggi. Pasalnya, dari 10 juta orang yang berpotensi menjadi lengganan TV berbayar, hingga 2008, baru 700.000 saja yang telah benar-benar berlangganan.

Karena itulah, Indovision tak ragu mengucurkan dana untuk satelit yang dibuat oleh Boing Satellite System di Los Angeles, Amerika Serikat, itu.
Nilai duit yang sudah dikucurkan US$285 juta. “Investasinya 60% dari kas internal, 40% dari pinjaman asing,” ujar Direktur Utama Indovision Rudyanto Tanoesoedibjo. *Nadia Citra Srya

Read more.....