Tampilkan postingan dengan label SLI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SLI. Tampilkan semua postingan

23 November 2009 SLI 009 masih sulit diakses lewat PSTN

Oleh Fita Indah Maulani
Bisnis Indonesia

Jakarta (20/11/2009): Layanan sambungan langsung internasional (SLI) milik PT Bakrie Telecom Tbk menggunakan nomor kode 009 dari telepon rumah atau public switched telephone network (PSTN) masih mengalami kendala.

Erik Meijer, Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom, mengatakan penggunaan SLI menggunakan nomor 009 mengalami peningkatan, bahkan lebih dari 50% pengguna Esia yang biasa telepon ke luar negeri telah menggunakan layanan ini.

“Sayangnya, sambungan 009 dari PSTN masih mengalami kendala. Banyak pelanggan yang sudah mendaftarkan untuk menerima layanan kami belum bisa melakukan akses hingga saat ini. Kalau dari nomor ponsel semua operator sudah bisa dilayani,” ujarnya, kemarin.

Dia menjelaskan saat ini layanan SLI 009 dari PSTN seharusnya sudah bisa dilakukan oleh para pengguna telepon rumah maupun kantor di empat kota Jakarta, Surabaya, Medan, dan Batam.

Rakhmat Junaidi, Direktur Layanan Korporasi PT Bakrie Telecom mengatakan Desember mendatang pihaknya akan kembali membuka layanan SLI 009 di enam kota, yaitu Bandung, Denpasar, Makassar, Balikpapan, Semarang, dan Palembeng. “Kami berharap seluruh layanan SLI bisa berjalan dengan lancar.”

Bakrie Telecom optimistis target pelanggan tahun ini sebesar 10,5 juta akan tercapai dan memproyeksikan pertumbuhan pelanggan hingga 14 juta pada 2010.

Pertambahan jumlah pelanggan, khususnya Esia didukung oleh kencangnya pemasaran produk bundling, salah satunya ponsel Esia Hidayah.

Erik menjelaskan jumlah penjualan ponsel tersebut kini hampir mencapai 500.000 unit dengan infak yang dihasilkan dari potongan Rp10.000 per ponsel yang terjual sudah hampir menyentuh Rp5 miliar dan telah disalurkan secara bertahap.

“Hari ini kami menyerahkan infak tahap ketiga sebesar Rp2,1 miliar, setelah sebelumnya didistribusikan Rp1,4 miliar dan Rp1 miliar melalui berbagai lembaga sosial khususnya untuk mengembangkan sektor pendidikan,” ujarnya.

Keseluruhan infak akan disalurkan melalui lima lembaga sosial yang memiliki lisensi sebagai penyalur infak.

Read more.....

10 November 2009 Trafik VoIP bakal melonjak

SLI dekati ambang jenuh

Oleh Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia

Jakarta (09/11/2009): Volume trafik voice over internet protocol (VoIP) di dunia, termasuk di Indonesia, diprediksi tumbuh 3.700% tahun ini, sehingga kue yang makin kecil memacu peningkatan persaingan layanan sambungan langsung internasional (SLI).

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Interent Teleponi Indonesia (APITI) Teddy A. Purwadi mengungkapkan pemerintah tak perlu menambah lagi operator SLI baru karena tingkat persaingan yang terjadi saat ini sudah cukup tajam.

“Semua trafik teleponi circuit switch bahkan akan segera beralih ke Internet teleponi packet switched, bahkan ethernet universal,” tutur Teddy yang juga anggota Dewan Pengawas Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tersebut kepada Bisnis, kemarin.

Teddy mengungkapkan layanan VoIP akan bersaing ketat dengan SLI di Indoneisa mengingat semua PJI memiliki kemampuan dan bisa menyediakan layanan VoIP. “Apalagi sejumlah layanan instant messaging juga menyediakan fitur voice.”

Praktisi telekomunikasi dari Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Mas Wigrantoro Roes Setiadi pernah mengatakan tiga operator saja sudah mencukupi kebutuhan akses internasional masyarakat mengingat selain clear channel sekarang sudah banyak trafik internasional yang disalurkan lewat paket Internet protocol berbiaya murah tetapi memakai tarif SLI.

“Yang menjadi pertanyaan adalah penambahan lisensi SLI tersebut dimaksudkan untuk kepentingan siapa, karena sekarang ini hampir semua operator telekomunikasi sahamnya dimiliki asing,” ujarnya.

Wigrantoro mengingatkan pemerintah perlu mencermati bahwa semakin banyaknya operator SLI maka pasar layanannya akan fragmented atau tidak ada yang dominan.

Implikasinya, menurutnya, apabila operator SLI bernegosiasi tarif dengan operator luar negeri sendiri-sendiri, posisi tawarnya akan lemah karena volumenya sedikit sehingga otomatis tarif SLI assymetric makin lebar.

Ketua Umum Mastel Setyanto P. Santosa mengatakan SLI atau SLJJ (sambungan langsung jarak jauh) hanyalah enabler, jadi sebenarnya tidak perlu ditambah lagi.

Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro menilai layanan SLI tidak sensitif dengan tarif murah, karena tarif bukan prioritas untuk layanan SLI sehingga jika tarif diturunkan pun, tidak otomatis mendongkrak panggilan telepon.

Direktur Eksekutif Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Indormasi (LPPMI) Kamilov Sagala mengaku heran karena pemerintah dan regulator akan menggelar tender sambungan langsung internasional.

“Dulu regulator dan pemerintah mengungkapkan hanya akan menambah satu operator SLI, tetapi dalam waktu 2 tahun sudah berubah,” tutur mantan anggota BRTI yang pernah menjadi panitia tender SLI 2007 tersebut.

Butuh insentif
Sementara itu, produsen ponsel di Indonesia mendesak pemerintah untuk lebih nyata memberikan insentif kendati sudah banyak menerbitkan regulasi.

Martono Jaya Kusuma, Presiden Direktur PT Metrotech Jaya Komunikas (produsen ponsel Nexian), mengatakan untuk menarik minat investor menanam modal dan membangun basis produksi ponsel di Tanah Air, dibutuhkan insentif lebih nyata dari pemerintah.

“Aturan [regulasi] sudah cukup banyak, sekarang tinggal insentifnya saja yang harus lebih nyata lagi,” ujarnya seusai acara Paket Nexian NX G522-Kartu As Telkomsel akhir pekan lalu. (RONI YUNIANTO) (fita.indah@bisnis.co.id/arif.pitoyo@bisnis.co.id)

Read more.....

07 Oktober 2009 Mastel: Tidak perlu lisensi SLI baru

Oleh Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia

Jakarta (06/10/2009): Masyarakat Telematika (Mastel) Indonesia mengingatkan pemerintah untuk tidak menambah lagi operator sambungan langsung internasional (SLI) atau tarifnya malah menjadi naik.

Sekjen Mastel Mas Wigrantoro Roes Setiadi menilai tiga operator saja sudah mencakupi kebutuhan akses internasional masyarakat mengingat selain clear channel sekarang sudah banyak trafik internasional yang disalurkan lewat paket Internet protocol berbiaya murah tetapi memakai tarif SLI.

“Yang menjadi pertanyaan adalah penambahan lisensi SLI tersebut dimaksudkan untuk kepentingan siapa? Yang perlu diingat, sekarang ini hampir semua operator telekmunikasi sahamnya di miliki asing,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Wigrantoro mengingatkan pemerintah perlu mencermati bahwa semakin banyaknya operator SLI maka pasar layanannya akan fragmented atau tidak ada yang dominan.

Implikasinya, menurut dia, apabila operator SLI bernegosiasi tarif dengan operator luar negeri sendiri-sendiri, posisi tawarnya akan lemah karena volumenya sedikit sehingga otomatis tarif SLI assymetric makin lebar.

Mastel menggambarkan tarif SLI assymetric terlihat dari tarif panggilan masuk dari luar negeri yang lebih murah daripada tarif panggilan ke luar negeri.

Kasus seperti ini juga terjadi di industri penerbangan jalur internasional dari dan ke Indonesia.

Ketua Umum Mastel Setyanto P. Santosa mengatakan SLI atau SLJJ (sambungan langsung jarak jauh) hanyalah enabler, jadi sebenarnya tidak perlu ditambah lagi.

“Hal ini hanya mengada-ada, publik susah untuk mengontrol kebijakan pemerintah karena tidak adanya roadmap telematika Indonesia, mau dibawa kemana, semuanya serta tidak jelas,” tegasnya.

Belum optimal
Pemerintah dan regulator tetap berencana memberikan lisensi baru sambungan langsung internasional (SLI) kepada satu operator sebelum akhir 2009, atau hanya dalam rentang 2 tahun sejak penggelaran tender sejenis pada 2007.

“Kami melihat hasil beauty contest pada 2007 lalu yang dimenangkan oleh PT Bakrie Telecom masih belum optimal. Kami masih butuh internasional jaringan keluar negeri, terutama untuk jalur lain di luar Batam-Singapura,” ujarnya.

Direktur Eksetutif Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala mengaku heran karena pemerintah dan regulator akan menggelar tender sambungan langsung internasional.

“Dulu regulator dan pemerintah mengungkapkan hanya akan menambah satu operator SLI, tetapi hanya dalam waktu 2 tahun sudah berubah,” tutur mantan anggota BRTI yang pernah menjadi panitia tender SLI 2007 tersebut.

Read more.....

04 Oktober 2009 Regulator ngotot tambah 1 operator SLI

Oleh Fita Indah Maulani
Bisnis Indonesia

Jakarta (02/10/2009): Pemerintah dan regulator tetap berncana memberikan lisensi baru sambungan langsung internasional (SLI) kepada satu operator sebelum akhir 2009, atau hanya dalam rentang 2 tahun sejak penggelaran tender sejenis pada 2007.

Heru Sutadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan studi mengenai rencana pemberian satu lisensi SLI saat ini sedang dimatangkan karena regulator melihat masih diperlukan pemain baru lagi di bisnis SLI.

“Kami melihat hasil beauty contest pada 2007 lalu yang dimenangkan oleh PT Bakrie Telecom masih belum optimal. Kami masih butuh internasional jaringan ke luar negeri, terutama untuk jalur lain di luar Batam – Singapura,” ujarnya kemarin.

Dia menjelaskan saat ini Bakrie Telecom baru membangun sentra gerbang internasional untuk jalur Batam-Singapura, padahal sudah banyak pihak yang membangun di jalur tersebut.

Pemerintah membutuhkan sentra gerbang internasional melalui jalur lain, adapun rencana Bakrie Telecom membangun jalur Kupang-Darwin di prediksi masih memerlukan waktu cukup lama.

Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan regulator, biaya pembangunan sentra gerbang internasional (SGI) tidak sulit dan tidak memerlukan biaya besar sehingga banyak operator bisa menyediakannya.

Heru menjelaskan pihaknya meminta calon peminat saat ini minimal yang sudah mengikuti hasil tender 2007.

Menurut seorang pejabat di Ditjen Postel, penggelaran kembali tender SLI karena pemerintah mengharapkan operator tertentu memenangi seleksi tersebut, meski tetap harus melalui proses yang terbuka dan transparan, terutama apabila dilihat dari kemampuan jaringan dan jumlah pelanggannya.

PT Exelcomindo Pratama (XL) sebagai salah satu peminat lisensi SLI selain PT Natrindo Telepon Seluler (Axis) menyatakan siap membangun sentra gerbang internasional di luar jalur Batam-Singapura.

“Kami siap membangun di jalur lain seperti Surabaya-Hong Kong atau Kupang-Darwin,” ujar Dirut PT Excelcomindo Pratama Hasnul Suhaimai.

Dia menjelaskan apabila pihaknya memenangi lisensi ini, layanan SLI akan dipergunakan untuk pelanggannya sendiri. (ARIF PITOYO)

Read more.....

13 Agustus 2009 Pemerintah siapkan tender baru SLI

Layanan difokuskan ke pelanggan internal

Oleh Fita Indah Maulani
Bisnis Indonesia

Jakarta: Pemerintah sedang menyiapkan rencana tender lisensi sambungan langsung internasional (SLI) seiring dengan permintaan dua operator seluler untuk mendapatkan lisensi layanan SLI.

Kedua operator seluler itu bergerak di jaringan GSM (global system for mobile communications), yaitu PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) dan PT Natrindo Telepon Seluler (Axis).

Basuki Yusuf Iskandar, Dirjen Pos dan Telekomunikasi Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), mengatakan pihaknya sedang merundingkan rencana membuka kembali tender lisensi SLI, diharapkan ada keputusan dalam waktu dekat.

“Kami tentu saja harus adil dengan pemenang terdahulu. Pemegang lisensi SLI nantinya harus membangun infrastruktur minimal sama dengan pemenang tender terakhir, Bakrie Telecom,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Dia menegaskan siapa pun peminat lisensi SLI, mereka harus berkomitmen membangun infrastruktur, jangan hanya menjadi penyedia layanan saja.

PT Bakrie Telecom Tbk pada 2007 berhasil memenangi tender lisensi SLI mengalahkan XL dan Axis.

Pemenang tender berkewajiban membangun dua sentral gerbang internasional (SGI) di barat dan timur Indonesia. Dua SGI tersebut nantinya harus dihubungkan hingga ke titik utama jaringan tulang punggung internasional, misalkan Amerika Serikat atau Inggris.

Bakrie Telecom saat itu berkomitmen melakukan pembangunan lima SGI dalam kurun waktu 5 tahun pertama di Jakarta, Surabaya, Batam, Makassar, dan Medan.

Selain itu Bakrie juga harus membuat satu landing point di Batam, rute jaringan internasional yang saat ini sudah tersambung ke Singapura, pembangunan jaringan Internet Exchange (IIX) melalui serat optik, serta penyediaan jaringan transmisi antar SGI.

Pelanggan internal
Heru Sutadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan XL dan Natrindo telah menyampaikan surat permintaan untuk memperoleh lisensi SLI beberapa waktu lalu.

“Tentu kami harus melakukan kajian terlebih dahulu,” ujarnya.

Hasnul Suhaimi, Dirut PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL), mengakui pihaknya memang mengajukan permintaan tersebut kepada regulator beberapa waktu lalu. Keinginan operator ini melayani SLI memang sudah ada sejak dahulu.

“Kami tidak muluk-muluk, SLI hanya untuk melayani pelanggan XL yang ada. Jadi tidak masalah jika ke depannya hanya ada empat operator SLI, karena layanan ini hanya untuk pelanggan [internal],” ujarnya.

Anita Avianty, Senior Manager Corporate Communications PT Natrindo mengaku masih belum menerima konfirmasi internal mengenai pengajuan lisensi SLI beberapa waktu lalu.

Bakrie sebagai pemenang tender dua tahun lalu resmi melayani sejak April tahun ini dengan meluncurkan SLI 009. operator itu mematok target pendapatan dari SLI sebesar Rp50 miliar dan waktu bicara sebanyak 3 miliar menit untuk tahun pertama.

Bakrie Telecom diketahui telah mengalokasikan belanja infrastruktur untuk mengembangkan SLI mulai 2008 hingga 2012 sebesar US$25 juta. SGI dibangun di Batam dan telah menarik kabel optik ke Singapura. (fita.indah@bisnis.co.id)

Read more.....

11 Agustus 2009 Penambahan Pemain SLI Perlu Ditinjau Ulang

Jakarta, Koran Jakarta – Komite Nasional Telekomunikasi Indonesia (KNTI) meminta regulator untuk memperhatikan kompetisi di jasa Sambungan Langsung Internasional (SLI) sebelum memutuskan menambah pemain di sektor tersebut.

“Regulator jangan buru-buru berencana menambah pemain di SLI. Evaluasi dulu tiga pemain baru diputuskan untuk ada penambahan. Jika dipaksakan, pemain baru seperti Bakrie Telecom tidak bisa kembali investasinya,” ujar Ketua KNTI Srijanto Tjokrosudarmo kepada Koran Jakarta, Senin (10/8).

Kebijakana regulator di SLI dinilai cenderung berubah-ubah. Hal itu bisa dilihat dari pernyataan dirjen Postel ketika akan menambah satu pemain di sektor tersebut yang dimenangi oleh Bakrie Telecom pada dua tahun lalu.

“Kala itu disebutkan cukup tiga pemain karena di dunia internasional umumnya pemain hanya tiga. Sekarang tiba-tiba ada wacana akan ditambah. Ini seperti menguber setoran untuk penerimaan negara dari lelang lisensi,” ketusnya.

Dikatannya, SLI sebenarnya sudah turun pamor, tidak lagi menjadi kue yang menarik, apalagi di tengah konvergensi multimedia yang mengarah kepada IP based. Dengan adanya tiga pemain di sektor layanan tersebut maka sebenarnya sudah ada persaingan meski masih terlalu pagi untuk melihat hasil dari kompetisi itu.

“Baiknya regulator melihat dulu kinerja ketiga pemain ini. Jika ketiga pemain ini tidak mampu melayani kapasitas pelanggan, baru dibuka keran bagi pemain lainnya,” katanya.

Seperti diberitakan, regulator berencana untuk menambah satu pemain baru di bisnis SLI tak lama lagi. Regulator berkayakinan jika pemain ditambah maka bisnis SLI akan berbasis kepada pelanggan masing-masing sehingga interkoneksi tidak begitu dibutuhkan. ■ dni/E-2

Read more.....

06 Agustus 2009 Penutupan Interkoneksi Dapat Tantangan

Jakarta, Koran Jakarta – rencana regulator menutup interkoneksi saat pemain Sambungan Langsung Internasional (SLI) ditambah menjadi empat operator mendapat tentangan. Salah satunya dari Bakrie Telecom yang bersama Telkom dan Indosat menggarap bisnis SLI clear channel.

“Tidak mungkin interkoneksi ditutup. Jika wacana itu direalisasikan, berarti industri telekomunikasi dibawa ke alam kegelapan. Ironisnya, regulator sendiri yang mendorong itu terjadi,” tegas VP Intercarrier Bakrie Telecom Herry Nugroho, Rabu (5/8).

Regulator berencana manambah satu pemain baru di bisnis SLI. Akibatnya, bisnis SLI akan berbasis kepada pelanggan masing-masing sehingga interkoneksi dinilai tidak begitu dibutuhkan.

Herry mengatakan, tren yang terjadi di dunia adalah operator menghemat belanja modal melalui sinergi antaroperator seperti Mobile Virtual Network Operation (MVNO), roaming domestik, outsource network, atau vendor financing.

“Jika regulator berpikir interkoneksi tidak dibutuhkan artinya tidak ada lagi kode akses dan berujung semua operator harus membangun infrastrukturnya sendiri. Dampaknya, penumpukan layer infrastruktur di daerah gemuk dan langkanya infrastruktur di daerah miskin,” tuturnya.

Karena itu, menurut Herry, ada baiknya regulator melakukan lebih banyak studi banding sebelum mengeluarkan wacana. ■ dni/E-2

Read more.....

04 Agustus 2009 Interkoneksi SLI segera dihapus

Regulator akan seleksi operator telepon internasional baru

Oleh Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia

Jakarta: Regulator segera menerapkan aturan sambungan langsung internasional (SLI) berbasis pelanggan, artinya nomor kode akses hanya bisa digunakan oleh pelanggan dari operator SLI masing-masing tahun depan.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan interkoneksi tidak diperlukan lagi pada saat SLI berbasis pelanggan karena pelanggan operator lain tidak lagi bisa menggunakan kode akses operator SLI lainnya.

“Pelanggan Indosat misalnya, tidak lagi bisa menggunakan kode akses 007 milik Telkom untuk menghubungi nomor internasional, demikian juga sebaliknya, pelanggan Telkom tidak bisa menggunakan kode akses 001,” ujarnya.

BRTI mengungkapkan saat ini sudah ada keinginan dari operator di luar Indosat, Telkom, dan Bakrie Telecom untuk bisa memberikan layanan SLI.

Artinya, apabila SLI dibuka ke operator yang lain, pasarnya akan makin terbuka dan menjadi berbasis pelanggan.

Saat ini regulator sedang mengkaji metodenya, apakah evaluasi atau seleksi dengan beauty contest. Heru mengatakan kepentingan regulator adalah tambahan backbone internasional dan sentral gerbang internasional yang tersebar di banyak wilayah, khususnya timur Indonesia.

“Jumlah lisensi SLI baru yang akan diberikan masih dalam kajian. Namun, kalau dari seleksi SLI terakhir, operator yang dapat menawarkan hal yang tertuang dalam dokumen lelang, bisa dipertimbangkan ikut dalam seleksi,” tuturnya.

PT Excelcomindo Pratama Tbk disebut-sebut merupakan calon kuat peraih lisensi SLI keempat mengingat infrastruktur yang dimilikinya sudah memadai.

Presdir XL Hasnul Suhaimi mengungkapkan pihaknya sangat mendukung seleksi tersebut karena dengan pelanggan seluler lebih dari 150 juta orang memang dibutuhkan lebih banyak lagi operator SLI.

Persaingan di segmen layanan sambungan langsung internasional makin ketat seiring dengan peningkatan volume trafik menit tahun ini.

Pada 2008, misalnya, trafik SLI mendekati 5 miliar menit, sedangkan pada 2006 tercatat 2 miliar menit, dan pada 2005 sebesar 1,87 miliar menit. Pada tahun ini, total trafik SLI diprediksi tumbuh menjadi 5,1 miliar menit.

Indosat sendiri mengklaim pada semester I tahun ini, pangsa pasar SLI mencapai 35%-45%. Secara total, trafik SLI Indosat mencatat pertumbuhan 3,5% dari total trafik 455.821.220 menit 31 Maret 2008 menjadi 471.728.463 menit pada 31 Maret 2009.

Adapun, trafik keluar (outgoing traffic) mengalami pertumbuhan 20,4% per akhir Maret 2009 dibandingkan dengan akhir Maret 2008. “Dari 95.920.768 menit pada 31 Maret 2008 menjadi 115.532.201 menit pada 31 Maret 2009.”

Indosat, meski memiliki dua nomor kode akses, yaitu 001 dan 008, tetapi jaringannya sudah menyatu dan tidak ada perbedaan lagi di antara keduanya.

Pemain tambahan
Di sisi lain, PT Telkom Tbk optimistis layanan sambungan langsung internasional (SLI) 007 miliknya bisa menyumbangkan pendapatan signifikan terhadap perusahaan meskipun jumlah pemain bertambah tahun ini.

Durasi trafik SLI Telkom mencapai 814,3 juta menit dengan komposisi telepon masuk ke Indonesia sebesar 77% dan telepon ke luar negeri (outgoing) sebesar 23%.

Chief Marketing Officer Indosat Guntur S. Siboro mengatakan bisnis SLI sebenarnya sudah makin tidak menarik karena pelanggan sudah bisa menggunakan layanan seluler.

“Volume trafik juga sangat bergantung pada kondisi makroekonomi nasional dan tidak selalu tergantung oleh tarif suatu operator tertentu,” ujarnya.

VP Marketing & Corporate Communication Telkom Eddy Kurnia mengungkapkan apabila dilihat dari jumlah pelanggan Telkom Group yang mencapai 100 juta orang tentunya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Namun, bagaimanapun juga perlu kajian yang matang dan diskusi dengan operator terlebih dahulu sebelum ditetapkan oleh regulator,” ujarnya. (arif.pitoyo@bisnis.co.id)

Read more.....

04 Juni 2009 Persoalan interkoneksi SLI 009 diklaim selesai

Oleh Fita Indah Maulani
& Roni Yunianto

Bisnis Indonesia

Jakarta: Indosat mengklaim pembicaraan soal pembukaan interkoneksi layanan sambungan langsung internasional (SLI) dengan PT Bakrie Telecom Tbk (Btel) sudah mencapai kesepakatan kedua belah pihak.

Fadzri Sentosa, Direktur Jabotabek & Corporate Sales PT Indosat Tbk, mengatakan pembukaan interkoneksi untuk layanan telepon internasional milik Bakrie Telecom telah mencapai kesepakatan, termasuk mengenai paket promosi yang akan dilaksanakan oleh operator SLI baru.

“Kami segera melakukan tindak lanjut berupa penandatangan perjanjian kerja sama yang akan diselenggarakan bulan ini,” ujarnya, kemarin.

Dia menjelaskan kesepakatan merupakan wujud dari komitmen Indosat untuk menyambut baik kehadiran setiap operator SLI baru.

Kesepakatan ini, tambah Fadzri, merupakan hasil negosiasi dengan mengacu kepada ketentuan interkoneksi yang ada, sementara mekanisme promosi di jaringan kedua belah pihak merupakan hasil negosiasi secara B to B antara Indosat dan Btel tanpa intervensi pihak mana pun baik regulator maupun pemerintah.

“Tercapainya kesepakatan ini juga merupakan wujud komitmen kami dalam mendukung kompetisi yang sehat,” ujar Fadzri.

Indosat mengaku masalah SLI sudah tidak ada masalah baik secara bisnis maupun teknis dan administrasi.

Menurut Fadzri, tertundanya kerja sama interkoneksi hanya dipicu oleh masih dibutuhkannya waktu untuk transisi.

“Prinsipnya kami perlu berkompetisi dan kalau membuka interkoneksi ada tahapan-tahapannya misalnya, pengujian pada sistem penagihan [billing], kapasitas hingga kesepakatan harga sampai dengan di mana saja titik-titik interkoneksi disepakati,” paparnya.

Tercapainya kesepakatan ini juga merupakan wujud dari komitmen Indosat untuk selalu menyambut baik kehadiran operator sambungan langsung internasional (SLI) baru serta selalu mendukung setiap operator yang ingin membuka interkoneksi, termasuk untuk layanan internasional, dengan semangat untuk memberikan manfaat kepada semua, termasuk pelanggan.

Separuh harga
Sementara itu, masalah set up billing juga sudah mencapai kesepakatan, Selasa. Division Head Public Relation Indosat Adita Irawati mengatakan masalah ini sudah mencapai kata sepakat, tatapi berapa besarannya masih belum bisa dipublikasikan.

Namun, seorang eksekutif Bakrie Telecom Tbk mengatakan persoalan set up billing tersebut masih belum menyepakati soal harga. “Kami menawar harga separuh dari harga yang disampaikan Indosat sebesar Rp40 juta per set up billing menjadi Rp20 juta,” tegasnya.

Indosat saat ini memiliki tiga set up billing yang bisa bersaing di seluruh segment, 001 untuk kelas premium, 008 pasar menengah, dan 01016 bagi kelas low end.

Harga set up billing yang ditetapkan Indosat kepada Bakrie Telecom sebesar Rp40 juta per set up billing atau total Rp120 juta.

Jumlah tersebut kabarnya lebih mahal dibandingkan dengan hasil kesepakatan Bakrie Telecom dengan PT Telekomunikasi Indonesia sebesar Rp21 juta per set up billing

Read more.....

03 Juni 2009 Interkoneksi SLI 009 belum jelas

KPPU minta Indosat permudah persyaratan

Oleh Fita Indah Maulani

Jakarta, Bisnis Indonesia – PT Indosat Tbk berjanji akan membuka interkoneksi sambungan langsung internasional (SLI) dengan PT Bakrie Telecom Tbk apabila pembicaraan soal teknis sudah selesai.

Johnny Swandi Sjam, Direktur Utama Indosat, menilai belum dibukanya masalah interkoneksi layanan SLI 009 hanya masalah waktu saja karena diskusi masih terus berjalan.

“Pembukaan interkoneksi SLI hanya tinggal masalah teknis, menunggu kesepakatan mengenai set up billing yang sekarang masih dalam pembicaraan B to B,” ujarnya kemarin.

Kalau masalah teknis sudah selesai, tambahnya, waktu pembukaan interkoneksi bisa cepat, tidak harus menunggu akhir bulan ini.

Indosat saat ini memiliki tiga set up billing yang bisa bersaing di seluruh segment, 001 untuk kelas premium, 008 pasar menengah, dan 01016 bagi kelas low end.

Johnny tidak bersedia dikonfirmasi mengenai pernyataan mahalnya set up billing yang ditetapkan Indosat kepada Bakrie Telecom sebesar Rp40 juta per set up billing atau total Rp 120 juta.

Jumlah tersebut kabarnya lebih mahal dibandingkan dengan hasil kesepakatan Bakrie Telecom dengan PT Telekomunikasi Indonesia sebesar Rp21 juta per set up billing.

Dia menegaskan pihaknya selalu membuka untuk interkoneksi dengan operator lain, termasuk dengan Bakrie Telecom dengan semangat win-win solution. Hasil koordinasi, tambahnya, diharapkan keluar dalam waktu dekat.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengimbau Indosat untuk merujuk ke Undang-undang No.5/99 tentang Anti Monopoli dalam membuat perjanjian pembukaan interkoneksi SLI dengan Bakrie Telecom.

“Pelaku usaha sebaiknya merujuk ke pasal-pasal yang ada dalam UU tersebut. Jika tidak mengindahkan, bisa berurusan dengan KPPU nantinya,” ujar Direktur Komunikasi KPPU A. Junaidi, akhir pekan lalu.

Junaidi meminta Indosat sebagai salah satu incumbent dalam menyelenggarakan jasa SLI untuk tidak menyalahgunakan posisinya sebagai pelaku usaha dominan dalam membuka interkoneksi dengan menetapkan syarat yang merugikan pemain lainnya.

“Jika benar Indosat menetapkan pelarangan tarif promosi bagi Btel, itu melanggan pasal 25 dari UU No.5/99. sebaiknya operator tersebut merevisi syarat itu,” katanya.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengatakan pembukaan interkoneksi merupakan satu kewajiban dan dijamin dalam Permenkominfo No.8/2006 tentang Interkoneksi dan peraturan mengenai sanksi denda.

“Persaingan itu wajar, setiap operator harus berani berkompetisi, termasuk Indosat,” tegasnya kepada Bisnis, kemarin.

Adita Irawati, Division Head Public Relations Indosat, mengatakan pihaknya sudah berkompetisi di SLI sejak 1995 ketika dimulainya duopoli layanan SLI oleh Telkom dan Indosat.

Tarif SLI
Indosat juga membantah tudingan mengenai Indosat yang takut bersaing dengan tarif murah SLI 009 Bakrie Telecom.

“Kami memiliki tarif yang lebih murah dengan kualitas yang sama melalui 01016. ini namanya segmentasi produk. Pengguna harus berhati-hati dengan promosi tarif murah karena hanya untuk negara-negara tertentu saja,” tegas Dirketur Marketing Indosat Guntur S. Siboro.

Menanggapi hal itu, Wakil Presdir PT Bakrie Telecom Erik Meijer, mengungkapkan pihaknya memberikan tarif hemat 70% ke negara China, sementara beberapa negara lainnya 50%.

Seorang eksekutif operator SLI juga mengungkapkan regulator perlu melakukan audit jaringan semua operator sambungan langsung internasional agar tidak melanggar ketentuan lisensi yang ada dengan menggunakan saluran protokol Internet (voice over Internet protocol/VoIP).

VP Intercarrier Bakrie Telecom Hery Nugroho memastikan pihaknya telah sesuai dengan regulasi yang ada, dengan menggunakan clear channel. (ARIF PITOYO)(fita.indah@bisnis.co.id)

Read more.....

Soal SLI, Indosat dan Bakrie Sudah Sepakat

Jakarta, Investor Daily – Indosat telah mencapai beberapa kesepakatan mengenai pembukaan interkoneksi sambungan langsung internasional (SLI) dengan Bakrie Telecom. Kesepakatan business to business (B to B) itu akan dituangkan dalam perjanjian kerja sama (PKS) pada Juni mendatang.

“Kami telah mencapai kesepakatan dengan Bakrie Telecom untuk beberapa pembahasan, termasuk paket promosi yang akan dilakukan Bakrie Telecom,” kata Dirut Indosat Johnny Swandi Sjam di Jakarta, Selasa (2/6).

Johnny mengatakan, tercapainya kesepakatan ini juga merupakan wujud dari komitmen Indosat untuk selalu menyambut baik kehadiran operator SLI baru. Pihaknya juga selalu mendukung setiap operator yang ingin membuka interkoneksi, termasuk untuk layanan internasional, dengan semangat untuk memberikan manfaat kepada semua, termasuk pelanggan.

Sebelumnya muncul beberapa persoalan menyangkut interkoneksi SLI itu, termasuk takut bersaing.

“Sebagai penyedia jasa, kami sudah berkompetisi sejak dulu. Sebelumnya kami bersaing dengan VoIP. Masa, sekarang harus takut berkompterisi,” kata dia.

Untuk menjaring pelanggan SLI, Indosat membuka tiga akses, yaitu 001 dan 008 untuk akses yang terjangkau, serta 01016 untuk akses yang jernih dan berkualitas.

Sementara itu, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, persoalan belum dibukanya interkoneksi SLI Bakrie Telecom oleh Indosat hanya terganjal masalah teknis. Artinya, keduanya masih bisa menemukan solusi terbaik.

“Selama belum ada surat permintaan Bakrie Telecom ke kami berarti belum ada persoalan besar. Keduanya masih berbicara b to b tanpa melibatkan pemerintah,” kata dia.

Mengacu Permen Kominfo No 8/2006 tentang Interkoneksi, kata dia, BRTI akan turun tangan menyelesaikan sengketa interkoneksi bila diminta salah satu pihak. Ketika bertemu dengan manajemen Bakrie Telecom sekitar April 2009, perusahaan operator milik kelompok usaha Bakrie Group ini menyatakan kesiapan operasional SLI sudah sampai 100%. (cep)

Read more.....

28 Mei 2009 Negosiasi interkoneksi SLI Indosat dan Esia alot

Oleh Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo

Jakarta, Bisnis Indonesia (27/5/2009) – PT Indosat Tbk diketahui menerapkan persyaratan yang cukup berat kepada PT Bakrie Telecom Tbk (Btel) dalam rangka pembukaan interkoneksi sambungan langsung internasional (SLI) 009.

VP Intercarrier Bakrie Telecom Herry Nugroho mengungkapkan syarat yang diminta anak perusahaan Qatar Telecom itu sangat banyak dan cenderung menerapkan biaya tinggi, terutama untuk set up billing system yang mencapai Rp120 juta, padahal dengan Telkom tidak dimintai biaya apa pun.

Syarat lainnya yang cenderung kearah praktik maonopoli, lanjutnya, adalah melarang Btel menerapkan biaya promosi selama 3 bulan pertama setelah pembukaan interkoneksi untuk tarif SLI 009.

“Padahal keunggulan kami adalah pada tarif yang dibanting hingga 70% dibandingkan dengan kompetitor sehingga konsumen terancam dihalangi untuk mendapatkan harga alternatif. Mungkin mereka [Indosat] khawatir kue SLI-nya tergerus,” tuturnya.

Dahulu, penyelenggara SLI hanya dilaksanakan oleh Indosat dengan nomor pendek 001. Namun, adanya kebijakan duopoli telekomunikasi saluran tetap antara Telkom dan Indosat yang dimulai pada Agustus 2002 menjadikan Telkom yang semula hanya bermain dalam telekomunikasi domestik pun segera mendapat lisensi sebagai penyelenggara SLI dengan nomor pendek 007.

Pada 2007, Indosat dan Telkom juga pernah berseteru seputar penutupan interkoneksi oleh masing-masing pihak baik lewat telepon rumah, wartel, maupun ponsel, tetapi dapat diselesaikan dengan baik oleh BRTI.

Herry menambahkan dengan Telkom, pihaknya malah sudah mulai membahas pembukaan interkoneksi SLI secara nasional. Saat ini interkoneksi SLI 009 baru dibuka Telkom di empat kota besar, meliputi Jakarta, Surabaya, Batam dan Medan.

Erik Meijer, Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk, mengatakan interkoneksi sambungan langsung internasional dengan Indosat belum dibuka hingga saat ini.

“Mereka [Indosat] bilang masih dalam proses, namun belum dibuka hingga saat ini. Semula dikatakan akan dibuka bulan ini,” ujarnya, kemarin.

Ketika peluncuran SLI 009 pertengahan bulan lalu, pihak Btel mengaku telah memperoleh informasi jika interkoneksi dengan Indosat akan dibuka dalam jangka waktu 2 pekan.

Masih dibicarakan
Adita Irawati, Division Head Public Relation Indosat, mengatakan interkoneksi SLI dengan Btel belum dibuka, karena posisi terakhir masih dilakukan perundingan antara kedua belah pihak.

“Pada dasarnya kami tidak menutup interkoneksi dengan siapa pun, Indosat sangat terbuka sepanjang kerja sama yang disepakati menguntungkan bagi kedua belah pihak,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis.

Dia menjelaskan pembicaraan antara kedua belah pihak belum selesai karena masih ada beberapa poin yang belum menemukan titik temu. Posisi sekarang Indosat masih menunggu konirmasi dari Btel.

Masalah promosi layanan SLI dengan dibukanya interkoneksi menjadi salah satu poin yang masih mengganjal. Adita menjelaskan pihaknya sudah mengajukan usulan kepada Btel, tetapi belum memperoleh konfirmasi hingga saat ini.

Read more.....