12 Desember 2009 Pemerintah Tetap Putuskan Wimax 16d

Oleh Encep Saepudin

Jakarta, Investor Daily (11/12/2009) – Sejumlah perusahaan menandatangani Piagam Kesiapan Industri Dalam Negeri untuk mengimplementasikan perangkat Wimax standar 16e atau Wimax mobile. Tapi pemerintah tetap pada putusan semula, yang mewajibkan pemenang lisensi BWA menggunakan perangkat Wimax standar 16d.

Kesepatakan itu dibuat oleh Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) dan Asosiasi Piranti Lunak Indonesia (Aspiluki) yang mewakili asosiasi, serta PT Panggung Electric Citrabuana, Olex Cables Indonesia, Gema Teknologi Indonesia, Berca Cakra Teknologi, Xirca Darma Persada, Realta Chakradarma, Jetcoms Netindo, dan LEN Industri Persero. Sedangkan Intel Corp Indonesia menjadi salah satu pendukung acara tersebut, sekaligus pendukung Wimax standar 16e.

“Wimax standar 16e tentu memiliki kemampuan di atas seri 16d. Keunggulan lainnya dalah interoperabilitas yang lebih mudah,” ujar Ketua Masyarakat Telematika (Mastel) Setyanto P Santosa di sela acara penandatangan kerja sama di Jakarta, Kamis (10/12).

Mereka yang bersepakat itu berharap pemerintah mengubah keputusan tentang penerapan Wimax standar 16d (fixed) ke standar 16e (mobile) bagi para pemegang lisensi broadband wireless access (BWA). Kesepatakan itu tak memedulikan investasi miliaran yang sudah dibenamkan pemerintah dan beberapa vendor Wimax lokal untuk memproduksi dan menguji coba perangkat Wimax lokal standar 16d.

Ketua Wimax Forum cabang Indonesia Sylvia Sumarlin mengatakan, Wimax standar 16e saat ini sudah menjadi standar global dan sudah diproduksi secara massal. “Jadi kalau ingin mendapatkan support ketersediaan perangkat menjadi lebih mudah, gunakan 16e,” kata dia.

Sylvia, anak mantan Menkeu JB Sumarlin era pemerintah Soeharto itu, melalui Xyrka Darma Persada kabarnya tengah menyiapkan perangkat Wimax standar 16e bekerja sama dengan vendor asal Tiongkok, Huawei. Namun, hingga kini produk Wimax lokal itu belum ketahuan hasilnya.

Tetap Wimax 16d
Untuk kesekian kalinya, Direktur Standardisasi Postel Azhar Hasyim menegaskan, pemerintah tidak akan mengubah keputusan untuk menggunakan Wimax standar 16d bagi para pemegang lisensi BWA. Keputusan penggunaan standar 16d itu merupakan pilihan industri.

“Sebelum memutuskan standar Wimax yang bakal digunakan, pemerintah telah mengundang para produsen perangkat. Dan, saat kita putusakan standar 16d, mereka juga setuju,” kata Azhar.

Atas putusan itu, lanjut Azhar, pemerintah menggelar sejumlah riset dengan dana tak sedikit, sejak 2007. Disisi lain, perusahaan nasional juga mulai meneliti dan memproduksi perangkat Wimax lokal yang standar 16d, sekaligus mengujicobanya secara komersial.

Sekarang dua perusahaan nasional, PT Teknologi Riset Group (TRG) dan PT Hariff Daya Tunggal Engineering (Hariff), menyatakan produk mereka sudah siap diproduksi secara massal. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan PT Aplikanusa Lintasarta sudah menggunakan dua perangkat Wimax lokal itu secara komersial, serta PT Indosat Mega Media (IM2) segera menyusul.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Depkominfo Aizirman Djusman mengatakan, pemerintah telah membenamkan investasi besar untuk riset dan pengembangan Wimax lokal seri 16d itu. Program ini melibatkan tiga perguruan tinggi terpercaya, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS), dan Universitas Indonesia (UI).

“Riset itu untuk kepentingan Industri Dalam Negeri (IDN) kita juga,” kata dia.

Riset itu juga untuk menjawab kebijakan pemerintah mengenai syarat total kandungan dalam negeri (TKDN) dan local content. Kebijkan ini sekaligus untuk memajukan IDN sehingga belanja modal perusahaan telekomunikasi tidak seluruhnya dibelanjakan untuk produk asing.

“Bila implementasi Wimax standa 16d telah meluas, terbuka bagi pemegang lisensi BWA untuk melanjutkannya dengan menggunakan perangkat 16e,” kata Aizirman.

Pengamat telekomunikasi Arnold Djiwatampu mengatakan, kebijakan pemerintah mengani penggunaan Wimax standar 16d tidak perlu diubah. Apalagi, sebelum kebijakan 16d dikeluarkan, industri diundang Depkominfo dan mereka yang minta 16d. “Kenapa sekarang harus diubah?” kata dia.

Argumen Wimax standar 16e sudah dipakai secara global, menurut Arnold, tidak masuk akal, kecuali agar vendor asing bisa memasarkan produknya di dalam negeri secara masif dan dengan harga murah. Dengan melihat populasi penduduk dan demografi Indonesia, standar 16d adalah yang paling cocok dikembangakan di Indonesia.

Read more.....

XL Raih Markeing Award 2009

Jakarta, Investor Daily (11/12/2009) – PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) mendapat penghargaan Marketing Award 2009 untuk kategori The Best Innovation in Marketing. Ini adalah penghargaan keempat berturut-turut sejak 2006. Penghargaan dari Majalah Marketing ini diterima Head of Mobile Data Service XL Budi Harjono dan General Manager Direct Sales XL Handono Warih.

“Keberhasilan dalam memasarkan produk layanan mengharuskan kami untuk selalu mampu memberikan layanan yang terbaik bagi pelanggan. Ke depan, kami akan terus terpacu untuk mempertahankannya dengan mengembangkan inovasi-inovasi serta melakukan terobosan lain,” kata Budi Harjono di Jakarta, Rabu (9/12). (cep)

Read more.....

Operator keberatan turunkan tarif

Oleh Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia

Jakarta (11/12/2209): Operator telekomunikasi keberatan menurunkan tarif sesuai dengan permintaan pemerintah mengingat besaran tarif di Indonesia sudah termasuk yang terendah di dunia.

Chief Marketing Officer PT Indosat Tbk Guntur S. Siboro mengatakan saat ini ARPM (average revenue per minute) di Indonesia sudah sekitar Rp0,1-Rp0,2 sudah termasuk yang terendah di dunia.

“Mau turun berapa lagi? Sebaiknya pemerintah menjelaskan dan mengarahkan ARPM seharusnya diturunkan sampai berapa,” ujranya kepada Bisnis, kemarin.

Besaran rata-rata pendapatan operator per menit pada tahun ini adalah sekitar Rp0,1 – Rp0,2, turun sampai 1.000% dari Rp1 pada 2007.

Presdir PT XL Axiata Hasnul Suhaimi mendukung imbauan pemerintah untuk menurunkan tarif meski dari sisi on-net sudah murah. “Namun, dari sisi off-net masih mahal sehingga regulator seharusnya menurunkan tarif interkoneksi.

Menkominfo Tifatul Sembiring mengatakan tarif telekomunikasi dan Internet yang ditawarkan para penyelenggara telekomunikasi dirasa masih bisa ditekan dan operator pun diharapkan bisa menawarkan layanan yang lebih miring kepada masyarakat.

Harapan tersebut, lanjutnya, bukan tanpa dasar, di antaranya dengan melihat ketersediaan infrastruktur yang makin meluas ke daerah-daerah dan banyaknya pemain di industri telekomunikasi sehingga membuat komptetisi semakin ketat.

Pada 2008, regulator dan pemerintah menurunkan tarif interkoneksi yang berimbas pada penurunan tarif ritel 30%-70% dari tarif sebelumnya, bergantung pada produk, jenis layanan, dan jenis teknologi yang digunakan.

Di sektor layanan pesan singkat, penurunan tarifnya bisa mencapai lebih dari 50% dari tarif sebelum pemberlakuan tarif interkoneksi berbasis biaya yang baru.

Turun 10%
Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia mengungkpakan apabila dilihat saat ini, terminasi FWA (fixed wireless access) atau telepon tetap nirkabel masih tinggi, sehingga dengan pertumbuhan FWA yang signifikan 3 tahun terakhir kemungkinan bisa turun.

“Besaran penurunannya bergantung pada perhitungan regulator dalam RFR [regulatory financial report], tetapi mungkin sekitar 10%.”

Heru mengungkapkan klaim operataor bahwa tarif di Indonesia saat ini sudah termasuk yang termurah di dunia bisa dikritisi metodenya. (FITA INDAH MAULAN)

Read more.....

XL Gelar Kompetisi 12Tweet

Jakarta, Investor Daily (10/12/2009) – PT Excelcomindo Pratama (XL) menyerahkan hadiah utama program kompetisi 12Tweet, yang merupakan program kampanye digital untuk layanan single access *123#. Hadiah utama berupa satu unit sepeda motor Piagio Fly 150 diserahkan Vice President Marketing Communcitaion XL Turina Farouk kepada Rosdiyani, salah seorang peserta kompetisi yang berasal dari Jakarta.

“Kompetisi yang berlangsung 29 Oktober 2009 dan berakhir awal Desember itu diikuti 433 orang pengguna aktif Twitter, sedangkan tweet yang berhasil dikumpulkan mencapai 508.753,” kata Turina di Jakarta, Selasa (8/12).

Peluncurannya bertujuan untuk mempermudah pelanggan XL dalam memilih sendiri berbagai layanan bertaif murah dari XL yang mereka kehendaki. Selain itu, pelanggan bisa juga mengecek pulsa, masa aktif suatu program, serta sisa kuota atas paket yang dia ikuti. (cep)

Read more.....

Kabel Primer Telkom di Pasar Minggu Putus

Jakarta, Investor Daily (10/12/2009) – Sembilan kabel primer milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang mencatu Sentral Telepon Otomat (STO) Pasar Minggu putus. Akibatnya, sebanyak 3,316 pelanggan telepon serta 785 pelanggan Speedy terputus.

Siaran pers Telkom yang diterima Investor Daily, Rabu (9/12) menyebutkan, terputusnya kabel primer itu akibat pekerjaan booring untuk pembuatan saluran air oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU). Kabel primer itu berada di Jalan Raya Ragunan Pasar Minggu (depan Kantor Depkes).

“Saat ini proses perbaikan sedang dilakukan, estimasi penyelesaian akan memakan waktu maksmal 14 hari. Kami mengupayakan perbaikan itu secepatnya agar fasilitas telekomunikasi pelanggan berfungsi normal kembali,” demikian pernyataan Telkom. (rz)

Read more.....

Operator Menilai Kualitas Lebih Penting

Menkominfo Minta Tarif Telepon Turun Lagi

Oleh Encep Saepudin

Jakarta (10/12/2009) – Menkominfo Tifatul Sembiring minta operator telekomunikasi menurunkan tarif telepon dan internet. Namun, operator menilai, tarif sekarang sudah teramat rendah, sehingga lebih baik fokus pada kualitas.

Saat berbicara di Workshop Nasional: Konvergensi Jaringan dan Layanan Telekomunikasi, di Jakarta, Rabu (9/12), Tifatul yang sudah hampir dua bulan menjabat Menkominfo itu mengatakan, “Operator diharapkan makin turunkan tarifnya.”

Harapan mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu didasarkan pada makin meluasnya ketersediaan infrastruktur yang kedaerah-daerah. Selain itu, pemain makin banyak, persaingan makin ketat, dan teknologi makin canggih.

Pernyataan Tifatul itu kontan saja mendapat tanggapan dari direktur perusahaan telekomunikasi yang hadir pada acara itu. Seperti berbalas pantun, Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengatkaan, “Mau turun berapa lagi?”

Tentu saja, yang dimaksud Rinaldi itu adalah mengenai tarif telepon. Hasil survei Deutsch Bank (2008), pada 2005, tarif telepon seluler di Indonesia termasuk termahal di Asia setelah Tiongkok, dengan tarif US$0,15 per menit (Rp1.500). pada 2008, tarif telepon di Indonesia menjadi US$0,015 per menit (Rp150) atau termurah di Asia. Bahkan, operator XL mengklaim, tarifnya sekarang Rp80 per menit, dan Flexi Rp49 per menit.

“Ini bukan saya yang bilang, lho. Ini hasil survei sebuah lembaga yang diumumkan tahun lalu. Terus, harus turun berapa lagi?” kata Rinaldi.

Menurut Rinaldi, tarif yang ditawarkan operator telekomunikasi saat ini sudah sangat rendah dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, tugas operator sekarang adalah bagaimana menghadirkan layanan telekomunikasi berkualitas.

Rinaldi mengakui, tren teknologi makin maju membuat harga makin turun. Tapi, tren tersebut tidak sepenuhnya berlaku bagi semua industri. Pada 1997, harga ponsel Nokia sampai Rp17 juta atau hampir setara dengan harga sebuah mobil (Toyota) Kijang, yang saat itu Rp25 juta. Sekarang, harga keduanya berbeda sangat jauh, yaitu harga ponsel cuma Rp 1 juta, dan harga modil Kijang mencapai Rp200 juta.

Sedangkan Sekjen Depkominfo yang juga Plt Dirjen Postel Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar mengatakan, memang tarif seluler di Indonesia paling murah di Asia. “Perang tarif sesama operator pun sudah reda karena operator sekarang memasuki era menghadirkan layanan telekomunikasi berkualitas,” kata Basuki.

Sementara itu, Chief Commercial Officer PT Hutchison CP Telkom Indonesia (HCPTI) Suresh Reddy mengatakan, tarif yang diberlakukan oleh 3 masih belum menyentuh batas minimal. Program promosi tarif murah yang ditawarkan belum mengundang marah pelanggan. “Karena itu, masih dimungkinkan bagi kami untuk menurunkan tarif,” kata dia.

Konsolidasi Sesama Operator
Berbicara tentang konsolidasi sesama operator, Tifatul mengatakan, pemerintah tidak akan capur tangan atas rencana bisnis mereka. Tentunya masing-masing operator memiliki pertimbangan sendiri untuk melakukan akuisisi atau merger.

“Natural saja. Nggak ada paksaan. Seperti orang mau kawin atau cerai, nggak ada yang paksa, bukan?” ujar Tifatul.

Menyangkut rumor rencana akuisisi Telkom terhadap Bakrie Telecom, Rinaldi mengatakan, Telkom pada posisi pasif. Kalau pembicaraan bukan hanya pada satu operator, tapi juga dengan operator lain. Singkatnya, sesama operator pun sebenarnya terjadi saling kontak.

Sedangkan Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia dalam keterangan resminya mengutip hasil analisa kredit Standard & Poor’s, berdasarkan konsolidasi bisnis empat tahun belakangan, aktivitas akuisisi dan merger mulai tampak di pasar yang tengah berkembang, seperti India dan Indonesia. Hal ini terjadi karena adanya kekurangan likuiditas dan perhitungan skala ekonomi.

Read more.....

‘Menara bersama belum pacu industri lokal’

Oleh Muhammad Sufyan
Bisnis Indonesia

Bandung (10/12/2009): Peraturan menara bersama di sejumlah daerah dinilai belum memengaruhi kapasitas produksi industri infrastruktur seluler dalam negeri.

Bambang Suprapto, Direktur Marketing PT Telehouse Engineering, mengungkapkan munculnya perda menara bersama di sejumlah kota/kabupaten memang sempat menurunkan permintaan pada awal implementasi aturan.

Bahkan, pihaknya sempat mengalami penurunan permintaan hingga 30% dari operator. Akan tetapi, seiring dengan temuan aneka problem di lapangan, permintaan kembali datang dengan sendirinya.

“Bagaimanapun, setiap BTS [base transceiver station] itu ada kekhasannya masing-masing. Ada konfigurasi teknis tertentu yang harus diakomodasi disesuaikan dengan kondisi lapangan, sehingga tidak bisa dipukul rata,” katanya Senin.

PT Telehouse Engineering merupakan perusahaan swasta produsen perangkat telekomuniaksi asal Bandung, yang berdiri sejak 2003, dengan spesialisasi bidang manufaktur menara telekomunikasi.

Setiap bulannya, pabrikan tersebut bisa memproduksi hingga 30 menara telekomunikasi (baik statis maupun bergerak) atau 360 unit setiap tahunnya. Hingga kini, mereka telah menjual sedikitnya 568 mobile BTS di Indonesia.

Bambang mengungkapkan pihaknya tetap memperoleh pesanan karena kadangkala realisasi menara bersama tidak sesuai dengan harapan. Misalnya, masih ada penolakan warga atau transmisi sinyal tidak merata.

Dalam kondisi tertentu, kadangkala juga terjadi situasi tidak terduga seperti bencana alam yang merusak infrastruktur ataupun terjadi kecelakaan kerja, karenanya, operator masih tetap memesan.

“Jadi, belum tentu dengan adanya menara bersama, maka semua problem selesai. Tetap ada yang tidak bisa diprediksi, sehingga operator masih memesan menara kepada kami, khususnya menara bergerak.”

Khairul Ummah, Peneliti Spesialis Bisnis Telecommunication, Management System dan IT Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, menilai implementasi menara bersama belum sepenuhnya efektif.

Colocation antara operator seluler yang sedang bersaing dan tidak satu perusahaan masih sangat timpang dengan operator yang satu induk perusahaan, misalnya TelkomFlexi dan Telkomsel yang telah memiliki 3.750 titik.

Padahal, kalau mengacu negara lain, misalnya Malaysia, empat operator yang tengah bersaing keran (TM Cellular, Maxis Mobile, Celcom, dan DiGi) sudah menggabungkan menaranya sejak 2001.

Read more.....

‘Konvergensi total baru terjadi 2012’

Pemerintah dorong konvergensi jaringan

Oleh Fita Indah Maulani
Bisnis Indonesia

Jakarta (10/12/2009): Konvergensi menyeluruh antara jaringan tetap dan bergerak yang bisa memberikan layanan kepada pelanggan telekomunikasi di mana saja diprediksi akan berjalan pada 2012, setelah regulasinya selesai tahun depan.

Ermady Dahlan, Direktur Network Solution Telkom, mengatakan konvergensi saat ini sudah terjadi, tetapi masih sangat terbatas.

Dalam konsep konvergensi menyeluruh, seseorang bisa menikmati konten dari semua perangkat yang dimilikinya mulai dari rumah, dalam perjalanan ke kantor, hingga sembari bekerja di kantor tanpa terputus.

“Seluruh hal tersebut diprediksi bisa berjalan mulai 2012 dengan beberapa syarat seperti adanya regulasi jelas, dilakukannya pemakaian bersama jaringan, serta tumbuhnya konten khususnya lokal untuk menghasilkan harga layanan yang terjangkau,” ujarnya kemarin.

Dia menjelaskan ada banyak model konvergensi, bisa berbasis volume, waktu, bug, atau bisa juga penggabungan di antaranya. Regulasi sendiri tidak perlu mengatur semuanya, cukup yang mendasar dan sisanya bisa melalui B-to-B atau bussiness to bussiness (mekanisme bisnis).

Regulasi yang dibuat seharusnya bisa memberikan manfaat yang besar bagi industri, pelanggan, dan pelaku usaha lokal konten. Semuanya itu harus melalui pemakaian bersama infrastruktur baik backbone maupun akses lainnya.

“Nantinya antara fixed dan mobile bisa saling berbagi. Sekarang dari Rp67 triliun pendapatan Telkom, sebanyak Rp37 triliun masuk ke pemerintah dalam bentuk pajak, biaya hak penyelenggaraan, deviden, dan lain sebagainya.”

Telkom sendiri mulai melakukan triple play (teleponi, video, dan teks) konvergensi pada semester I tahun depan melalui layanan IPTV di lima kota besar di Indonesia. Layanan ini bisa dimulai dari apartemen atau perumahaan tertentu.

Standar teknologi
Basuki Yusuf Iskandar, Plt (pelaksana tugas) Dirjen Postel Departemen Komunikasi dan Informatika, mengatakan pola konvegensi harus disiapkan bersama-sama di antara para operator telekomunikasi untuk mengakomodasi model bisnis telekomunikasi masa depan.

“Standar teknologi saat ini sedang menuju ke arah sistem yang mendukung konvergen, tidak hanya jenis ragam layanan yang bisa disalurkan melalui satu jaeringan akses broadband, tetapi juga bagaimana model, pola, dan skenario yang merupakan konvergen antarberbagai operator,” katanya.

Basuki mengakui kemajuan dan perkembangan teknologi tidak dapat ditolak dan memang harus diadopsi. Pemerintah akan mengatur regulasi terkait dengan konvergensi pada tahun depan. Konvergensi tidak hanya dilakukan pada tingkat layanan, tetapi juga jaringan.

Pemakaian sumber daya bersama tidak dapat dihindari karena biaya investasi menuju konvergen cukup besar mulai dari meningkatkan kemampuan jaringan, kontrol, dan aplikasi layanan.

Adanya konvergensi diharapkan dapat memberi peluang lebih lebar bagi konten-konten lokaluntuk berkembang. Industri konten memang memiliki tingkat kegagalan yang lebih tinggi, tetapi industri ini juga lebih cepat booming.

Menkominfo Tifatul Sembiring meminta pembangunan dibidang telematika ke depan melalui penguatan infrastruktur, layanan, kandungan inforamasi dapat menjangkau seluruh pelosok Nusantara. (fita.indah@bisnis.co.id)

Read more.....

Bakkrie Telecom jajaki obligasi global

Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia

Jakarta (10/12/2009): PT Bakrie Telecom Tbk membuka kemungkinan untuk menerbitkan obligasi berdenominasi dolar AS tahun depan.

“Penerbitan itu tidak terburu-buru dan masih menunggu saat yang tepat,” ujar Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya Bakrie seperti dikutip Bloomberg, kemarin.

Dia mengatakan estimasi pendapatan ataupun laba bersih perseroan pada akhir tahun ini masih relatif tidak akan jauh dibandingkan dengan kinerja perseroan pada akhir triwulan III/2009.

Pada laporan keuangan terakhir itu, perusahaan berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar Rp1,66 triwulan dan laba bersih sebesar Rp72,77 miliar.

Beberapa analis berdasarkan survei Bloomberg memprediksi pendaptan perusahaan mencapai Rp3,08 triliun pada akhir tahun ini.

Survei itu juga memproyeksikan laba bersih disesuaikan (net income ajusted) emiten yang memiliki operator CDMA Esia itu pada level Rp145,52 miliar.

Anindya juga menyatakan sedang memantau pergerakan pasar modal untuk melanjutkan rencana penawaran umum (initial public offering/IPO) PT Visi Media Asia pada tahun depan.

Visi Media Asia merupakan induk usaha bisnis media Group Bakrie di antaranya yaitu ANTV, TV One, dan Vivanews.

“Kami sudah mengaudit induk perusahaan, dana dari IPO akan kami gunakan untuk ekspansi usaha.”

Tunjuk underwriter
Secara terpisah, PT Bakrie & Brothers Tbk segera menunjuk penjamin emisi obligasi tukar senilai US$200 juta-US$250 juta yang akan dilaksanakan pada awal tahun depan.

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno mengatakan saat ini menajemen telah mengerucut pada tiga nama penjamin emisi untuk kemudian akan menetapkan dua nama.

“Kami akan pilih dua saja, yang penunjukannya dilakukan pada pekan depan,” ujarnya, pada Selasa.

Pada kesempatan itu dia mengoreksi soal pemberitaan Bisnis sebelumnya, edisi 24 November dan 8 Desember 2009, yang menyebutkan perihal penunjukan Credit Lyonnaise Securities Asia (CLSA) sebagai penjamin emisi obligasi tukar.

Menurut dia, CLSA hanya menggandeng BNBR untuk menggelar nondeal roadshow ke mancanegara, bukan sebagai penjamin emisi obligasi tukar tersebut.

Dia menyebutkan ada enam calon penjamin emisi yang diseleksi, tetapi tidak merincinya.

Pada 26 November, harian ini melaporkan enam penjamin emisi tersebut adalah Credit Suisse, Deutsche Bank Securities, JPMorgan, Merrill Lynch, Nomura, dan satu hedge fund asal AS. (21)

Read more.....

10 Desember 2009 Pelanggan StarOne Anjlok Indosat Belum Putuskan Spin Off

Rakyat Merdeka (09/12/2009) – Hingga September 2009, jumlah pelanggan StarOne terjun bebas menjadi 543 ribu pelanggan. Jumlah pelanggan ini anjlok sekitar 39,4 persen setelah Indosat melakukan pembersihan pelanggan dalam triwulan kedua 2009. Sekalipun pelanggannya terus melorot, pihak Indosat mengaku belum berencana melakukan spin off (pemecahan) terhadap StarOne.

“Terlalu dini jika kia melakukan spin off terhadap StarOne, kami akan terus memaksimalkan layanan pada pelanggan,” kata Director and Chief Finance Officer Indosat Peter W Kuncewicz di sela acara Investor Summit and Capital Market Expo 2009 di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Peter, sektor seluler pelanggan Indosat saat ini berjumlah 28,7 juta pelanggan atau turun sebesar 19 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Hal ini disebabkan pengurangan pelanggan tipe calling card dari pelanggan seluler. Padahal pada awal tahun, Indosat mengumumkan meraih sekitar 36,4 juta pelanggan.

“Indosat tetap melakukan sejumlah optimalisasi kapasitas jaringan termasuk StarOne. Hingga saat ini StarOne pun telah melayani sekitar 65 kota di Indonesia,” katanya. Adapun, Average Revenue Per User (ARPU) seluler pelangan Indosat dalam 9 bulan terakhir mengalami penurunan sebanayk 8,9 persen dari Rp37 ribu pada awal tahun menjadi Rp36 ribu.

Selama ini layanan seluler memberikan kontribusi 75 persen terhadap pendapatan usaha. Sedangkan layanan data tetap (MIDI) dan layanan telepon berkontribusi sekitar 15 dan 10 persen. ■ NOV

Read more.....

Right Issue Rampung, EXCL Bersiap Membayar Utang

Kontan (09/12/2009) – Pasca penerbitan saham baru (rights issue), PT XL Axiata Tbk (EXCL) bakal membayar utang mereka. Wakil Presiden Senior Financial EXCL Johnson Chan menyatakan, hasil penjualan saham baru tersebut akan rampung pada Jumat pekan ini (11/12). “Dan hasilnya akan langsung kami gunakan untuk membayar utang,” kata dia, kemarin.

Sekadar informasi, EXCL menerbitkan saham baru sebanyak 1,41 miliar saham dengan harga Rp2.000 per saham. Setiap lima pemegang saham lama memiliki hak membeli satu saham baru. Menurut prospektus, EXCL mengincar dana Rp2,83 triliun dari hajatan ini.

Presiden Direktur EXCL Hasnul Suhaimi mengatakan, hingga kini EXCL belum mengetahui berapa jumlah penawaran yang masuk. “Yang pasti, kami tidak sampai mengalami kelebihan permintaan (over subscribed),” katanya. Dia memperkirakan, hasil rights issue kali akan sesuai terget. Sehingga pembeli siaga alias standing buyer, Axiata Group, tidak harus turun tangan.

Dari target dana Rp2,83 triliun itu, XL akan menggunakan Rp300 miliar untuk membayar utang jangka panjang yang jatuh tempo tahun ini. Sisanya akan digunakan XL untuk melunasi seluruh utang secara bertahap. Hingga kuartal ketiga 2009, utang jangka panjang EXCL mencapai Rp16,65 triliun. * Vevy Mega

Read more.....

Telkomsel Bundling Mito LuxBerry

Surabaya, Investor Daily (09/12/2009) – Telkomsel menghadirkan paket bundling ponsel Mito LuxBurry 838 seharga Rp999 ribu. Ponsel bundling ini memiliki fitur lengkap, seperti chatting, social networking, dan hiburan terlengkap serta gratis nelpon, SMS, dan internet selama enam bulan.

Manager Marketing Telkomsel Area Jawa Bali Roeswandi mengatakan, selain dengan Mito, Telkomsel bekerja sama dengan delapan vendor ponsel berfitur jejaring sosial, browsing dan lain-lain. “Telkomsel terus berupaya menghadirkan ragam paket bundling sesuai kebutuhan pelanggan,” kata Roeswandi di Surabaya, Senin (7/12).

Sementara itu, Direktur Utama Mito Mobile Hansen Lie mengatakan, pihaknya terus berinovasi dengan meluncurkan berbagai produk yang memiliki fitur canggih, seperti aplikasi Facebook, Yahoo Messenger, E-Buddy, Opera Mini, Mobile Office, Google Map. “Kami berharap pelanggan bisa memanfaatkan fitur-fitur tersebut secara maksimal untuk aktivitasnya sehari-hari,” kata Hansen. (zal)

Read more.....

Operator 3 Bundling 3 Ponsel Taxco

Jakarta, Investor Daily (09/12/2009) – PT Hutchison CP Telecom Indonesia (HCPTI), operator 3, menawarkan tiga ponsel canggih keluaran Taxco seharga Rp678 ribu. Tiga ponsel Taxco itu adalah seri VX3, VX4, dan VX5.

Chief Commercial Officer PT HCPTI Suresh Reddy mengatakan, kombinasi ini mampu memenuhi kebutuhan pelanggan akan kombinasi data yang terjangkau. “Kerja sama ini sejalan dengan komitmen kami untuk menghadirkan komunikasi hemat dan terjangkau bagi masyarakat,” kata dia di Jakarta, Selasa (8/12).

Setelah mengisi ulang pulsa minimal Rp10 ribu, pelanggan memperoleh gratis telepon hingga 30 menit setelah lima kali telepon, gratis SMS setelah enam kali SMS, dan gratis MMS dan internetan hingga 1 MB. (cep)

Read more.....

Pelanggan Flexi Tembus 15,5 juta

Jakarta, Investor Daily (09/12/2009) – Pelanggan Flexi hingga November 2009 telah mencapai sekitar 15,5 juta pelanggan, atau tumbuh lebih dari 60% dibanding periode yang sama pada 2008. Melihat pertumbuhan Flexi yang mengesankan tersebut, menurutnya Telkom tetap fokus membesarkan Flexi.

“Di tengah persaingan yang cukup ketat, Flexi terus memperlihatkan pertumbuhan yang cukup berarti,” ujar Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia di Jakarta, Selasa (8/12).

Upaya pengembangan layanan Flexi, lanjut Eddy, antara lain dengan menawarkan bundling handset, menawarkan tarif kompetitif, tarif data murah, pemasaran bersama dengan anak perusahaan dan memperkaya layanan nilai tambah (value added service) dalam bentuk content.

Saat ini Telkom merupakan operator telepon berbasis CDMA terbesar dengan jumlah pelanggan 15,5 juta dan jumlah base transceiver station (BTS) sebanyak 5.060 titik yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tarif Flexi Rp300
Salah satu upaya memberikan nilai tambah kepada pelanggan Flexi, Telkom meluncurkan Program Bulan Crita Flexi, yang tak lain kepanjangan dari ‘bicara irit tiga ratus rupiah sepuasnya’. Program ini memungkinkan pelanggan Flexi menghemat panggilan ke sesama Flexi tanpa syarat pada pukul 23.00 hingga 09.00 dengan biaya Rp300 sekali bicara. Adapun pembicaraan enam menit pertama dikenakan tarif normal Rp49 per menit.

Program ini, menurut Eddy, berlaku pada Desember 2009 hingga Februari 2010. “Kami yakin Program Bulan Crita Flexi ini akan disambut baik oleh pelanggan seperti halnya program-program Flexi lain,” kata Eddy.

Flexi adalah operator yang hingga kini masih mempertahankan tarif percakapan lokal yang flat, yakni Rp49 per menit.

Saat ke luar kota, pelanggan Flexi cukup menghubungi *777 di tempat kota tujuan untuk mengaktifkan layanan Combo. (cep)

Read more.....

Mengintip layanan WiMax di negeri jiran

Tarif layanan relatif sejajar dengan Internet HSDPA

Oleh Sutarno
Wartawan Bisnis Indonesia

(08/12/2009): Ribut-ribut soal mangkirnya tiga pemegang lisensi WiMax (worldwide interoperability for microwave access) untuk membayar kewajiban serta kesiapan vendor lokal membuat bimbang masyarakat untuk dapat segera menikmati teknologi Internet cepat nirkabel itu.

Tiga ‘calon’ operator WiMax yang mendapat sorotan itu adalah PT Berca Hardayaperkasa, Konsorsium Wireless Telecom Universal, dan Konsorsium Comtronics Systems & Adiwarta Perdania. Hingga batas waktu 20 November, ketiga pemegang lisensi WiMax tersebut belum membayar up front fee (biaya dibayar di muka) masing-masing Rp70,35 miliar, Rp2,7 miliar, dan Rp66,01 miliar. Selain up front fee, mereka juga harus membayar BHP (biaya hak penggunaan) frekuensi tahun pertama.

Pekan lalu Berca akhirnya menyetorkan up front fee Rp70,35 miliar plus denda serta BHP ke Depkominfo, kendati diberi batas waktu hingga 20 Desember.

Adapun, dua konsorsium operator sepertinya masih mencoba memaksimalkan tenggat yang diberikan, yaitu hingga 26 Januari 2010.

Masalahnya belum selesai disitu. Yang justru membuat delapan operator pemegang lisensi WiMax gundah adalah kesiapan vendor perangkat WiMax lokal untuk mendukung penggelaran jaringan WiMax di seluruh penjuru Tanah Air yang terkaveling ke dalam 15 zona WiMax.

Sesuai dengan ketentuan izin prinsip yang ditandatangani Menkominfo 6 November 2009, delapan pemegang lisensi WiMax diberi waktu paling lambat 1 tahun guna menggelar jaringan untuk selanjutnya melakukan uji layak operasi.

Delapan perusahaan pemegang lisensi WiMax itu adalah PT Telkom, PT Indosat Mega Media (IM2), PT First Media, PT Berca Hardayaperkasa, PT Internux, PT Jusanita Telekomindo, PT WTU (Konsorsium WiMax Indonesia), dan Konsorsium Comtronics Systems & Adiwarta Perdania.

Mereka juga diwajibkan menggunakan perangkat WiMax dengan kandungan lokal 30% untuk subscriber station (terminal pelanggan) dan 40% untuk base station atau menara WiMax.

Inilah yang saat ini menjadi polemik, karena operator WiMax menilai produk perangkat WiMax lokal belum siap untuk digelar di 15 zona WiMax, sementara mereka diberi batas waktu hanya 1 tahun.

Bagaimana solusi masalah tersebut? Biarkanlah operator, produsen perangkat, dan regulator mencari solusinya.

Yang jelas, dari perspektif sebagai calon pelanggan, paling lambat akhir 2010 kita akan menikmati era baru-baru ber-Internet dengan kehadiran layanan Internet nirkabel WiMax.

Sepadankah penantian tersebut dengan kelebihan yang didapatkan dari layanan Internet WiMax, yang menjanjikan kecepatan hingga 70 megabit per second (Mbps)?

Sekadar perbandingan layanan Internet cepat 3,5 G yang lebih dikenal dengan HSDPA (high-speed downlink packet access) memiliki kapasitas 3,6-14,4 Mbps.

Artinya, WiMax lebih menjanjikan kenyamanan, karena secara teoritis kecepatannya lima kali lipat dari jaringan Internet nirkabel HSDPA, yang ditawarkan Telkomsel, Indosat, XL Axiata, dan penyelenggara jasa Internet IM2.

Tarif tak menarik
Kehadiran WiMax membuat masyarakat mempunyai dua pilihan untuk menggunakan layanan Internet cepat nirkabel: seluler broadband dan Internet WiMax.

Kalau preferensinya adalah akses Internet yang lebih cepat, tentu pilihannya adalah WiMax. Namun, yang justru lebih krusial adalah perbandingan tarif berlangganan antara Internet seluler broadband dan Internet WiMax.

Sayangnya, untuk saat ini kita tidak mempunyai pembanding tarif. Namun, kita dapat belajar dari negeri jiran atau tetangga, yaitu Malaysia, yang sudah memiliki layanan WiMax komersial sejak Juli 2008.

Packet One Networks (Malaysia) Sdn Bhd berhasil menorehkan sejarah sebagai operator pertama yang meluncurkan layanan Internet WiMax di negeri jiran tersebut dengan bendera dagang PacketOne (P1).

Sebelum kehadiran P1, layanan Internet seluler broadband dilayani oleh tiga operator seluler, yaitu Maxis, Celcom Axiata, dan DiGi.

Adapun, layanan seluler broadband yang saat ini head-to-head dengan P1 adalah Internet berbasis jaringan HSDPA yang dilayani Maxis dan Celcom. DiGi belum memiliki layanan HSDPA, karena layanan paling cepat baru sebatas teknologi EDGE (enchanced data rates for GSM evolution) dengan kecepatan puncak 384 kilobit per second.

Hingga saat ini, P1 baru membuka keran kecepatan paling tinggi di 10 Mbps dengan paket berlangganan RM149 (sekitar Rp416.000) dengan kuota data 10 gigabyte (GB).

Layanan dari kubu seluler broadband yang mendekati paket P1 tersebut adalah paket layanan 12 GB dari Maxis dengan banderol RM178 (Rp496.900) per bulan dengan teknologi HSDPA 7,2 Mbps.

Artinya, dengan tarif lebih murah sekitar Rp80.000, WiMax P1 menawarkan kecepatan 3 Mbps lebih tinggi dibandingkan dengan Internet HSDPA Maxis. Keunggulan Maxis terletak pada kuota data yang 2 GB lebih besar dibandingkan dengan P1, tetapi mungkin hal ini kurang signifikan untuk diperbandingakan.

Bagaimana perbandingan paket unlimited antara WiMax dan seluler broadband? Celcom merupakan satu-satunya operator seluler yang menawarkan Internet tanpa kuota data. ‘Saudara kandung’ PT XL Axiata Tbk itu membanderol tarif RM299 (Rp834.800) untuk paket unlimited dengan kecepatan puncak 3,6 Mbps.

Lawan tandingnya adalah paket unlimited P1 dengan banderol RM339 (Rp946.400). P1 kalah bersaing dengan paket unlimited Celcom, karena tarifnya lebih mahal sekitar Rp112.00 tetapi kecepatannya lebih lelet-hanya 2,4 Mbps.

Belajar dari pengalaman WiMax di Malaysia tersebut, sepertinya tidak ada yang istimewa dari kehadiran teknologi Internet cepat itu. Layanan WiMax dan Internet seluler HSDPA masih merupakan pilihan yang bersifat komplementer bukan substitusional.

Bagaimana dengan nasib WiMax dari delapan pemegang lisensi di Tanah Air? Mudah-mudahan terjadi gebrakan, sehingga WiMax memberikan momentum bagi kita untuk menikmati akses Internet murah nan cepat. (sutarno@bisnis.co.id)

Read more.....

Hariff terima order WiMax Lintasarta

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia

Jakarta (09/12/2009): PT Hariff Daya Tunggal Engineering menerima pesanan dari PT Aplikanusa Lintasarta mewakili Grup Indosat Tbk untuk perangkat WiMax di versi 16d pita frekuensi 3,3 GHz.

Budi Permana, Direktur Utama PT Hariff Daya Tunggal Engineering menuturkan pihaknya sudah menerima pesanan ribuan unit untuk perangkat base station dan customer premise equipment (CPE) dari Lintasarta untuk penggelaran ratusan sektor di Sumatra,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Dia menambahkan dengan pesanan itu, perangkat lokal sudah layak untuk digunakan mendukung pelayanan teknologi akses WiMax.

“Untuk concurrent atau penggunaan dalam waktu bersamaan lebih dari 200 pengguna ini sudah teruji karena sebelum pemesanan kami terbuka untuk pengujian,” paparnya.

Menurut Budi, selama ini belum tersedianya pemesanan dalam jumlah besar membuat vendor kesulitan untuk melakukan pembuktian bahwa produsen lokal siap memenuhi komponen yang dipersyaratkan.

“Untuk chipset memang kami beli dari luar negeri, tetapi itu hanya 20%-30% porsinya, selebihnya seperti software, antena, mekanikal, dan lainnya adalah lokal,” jelasnya.

Industri berharap basis volume produksi akan besar sehingga biaya dapat ditekan dan kemudian membuat harga layanan dipengguna akhir relatif terjangkau.

Saat ini vendor WiMax di Indonesia antaranya PT Industri Telekomuniaksi Indonesia (Inti), PT LEN, PT Quasar, PT Hariff, Xirka, TRG, dan CMI.

TRG, misalnya, telah menggandeng Tranzeo Wireless Technologies Invorporation asal Kanada. Adapun PT Hariff Daya Tunggal Engineering juga telah menggandenga Wavesat Canada untuk komponen chipset.

Desa berdering
Dalam kesempatan terpisah Telkomsel optimistis dapat merampungkan pengoperasian desa berdering di sekitar 25.000 desa di wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Kalimantan untuk mendukung program 100 hari pemerintah.

Sarwoto Atmosutarno, Dirut Telkomsel, mengatakan meskipun saat ini seluruh material dan infrastruktur perangkat USO telah terkirim ke lokasi dan telah beroperasi di 19.000 titik desa. “Perangkat USO untuk desa-desa lainnya sedang dalam proses instalasi. Telkomsel menambah satuan sambungan telepon (SST) menjadi 2 SST berupa 2 FWT di setiap desa USO,” ujarnya baru-baru ini.

Selain itu, operator itu juga menggelar perangkat untuk program Desa Pinter (Desa Punya Internet) dan Pusyantip (Pusat Layanan Telekomunikasi dan Informasi Perdesaan) berupa Portal Lumbung Desa untuk menambah pemanfaatan program USO.

Read more.....

Pengguna Esia 1 juta nomor

Bandung, Bisnis Indonesia (09/12/2009): PT Bakrie Telecom, pemegang merek Esia, mengklaim sebagai operator CDMA paling dikenal publik di area Bandung dengan jumlah pengguna aktif lebih dari satu juta nomor.

Erik Meijer, Wakil Dirut PT Bakrie Telecom, mengungkapkan survei lembaga riset independen internasional, Roy Morgan, pada triwulan ketiga 2009 menunjukkan popularitas Esia.

Menurut dia, selain dianggap paling terkenal pada operator berteknologi CDMA, merek itu juga disebut-sebut sebagai merek paling terkenal urutan ke dua dari seluruh operator di seluruh Indonesia.

“Pencapaian ini ditambah dengan pangsa pengguna kami yang mencapai 70% untuk segmen operator CDMA di Bandung. Pengguna aktif lebih dari satu juta nomor,” katanya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Menurut dia, pesaing boleh saja mengklaim pangsa dan pelanggan lebih banyak. Akan tetapi, pencapaian mereka hanya didasarkan kepada aktivasi kartu. (BISNIS/MSU)

Read more.....

Indosat Siap Perang Tarif Lagi pada 2010

Bandung, Seputar Indonesia (08/12/2009) – Perang tarif yang dilakukan operator telekomunikasi diprediksi masih berlanjut hingga tahun depan. Branch Head Bandung PT Indosat Roganda P Manullang mengatakan, jika jumlah operator telekomunikasi belum menemui jumlah ideal, perang tarif menjadi hal yang tidak bisa dielakkan lagi.

“Saat ini, jumlah operator telekomunikasi di Indonesia belum menemukan jumlah idealnya. Kalau jumlahnya masih seperti kondisi yang ada saat ini, saya kira perang tarif masih akan terjadi pada 2010,” kata Roganda kemarin.

Menurut dia, untuk menyentuh angka ideal perlu dilakukan beberapa merger antara operator telekomunikasi seperti yang dilakukan Fren dan Smart. Jumlah operator telekomunikasi di Indonesia, idealnya berjumlah 5 operator sehingga persaingan bisa lebih sehat. (irvan christianto)

Read more.....

09 Desember 2009 Belasan Ribu Wartel Tutup

Bandung, Pikiran Rakyat (08/12/2009) –Belasan ribu wartel (warung telekomunikasi) di Jabar menutup usahanya sepanjang tahun 2009 ini. Berdasarkan catatan Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia (APWI) Jabar, dari 24.000 anggota mereka pada tahun lalu, dalam inventarisasi keanggotaan terakhir hanya bersisa kurang lebih 10.000.

“itu pun hasil pencatatan pada bulan Juni 2009. Bukan tidak mungkin saat ini tinggal 5.000-an lagi. Karena kondisi yang berlangsung saat ini, memang sangat tidak kondusif untuk usaha wartel,” ujar Ketua APWI Jabar, Eddy A. Junaedi.

Dijelaskan, dengan berbagai perkembangan di bisnis telekomunikasi membuat wartel menjadi tidak memiliki daya saing. Misalnya saja dengan tarif telepon yang semakin murah, harga pulsa dari Telkom yang umumnya digunakna oleh wartel, menjadi tidak kompetitif.

“Sebelumnya, ada rencana untuk menggunakan tarif Flexi, tetapi entah kenapa tidak pernah dilaksanakan. Secara organisasi, loyalitas tunggal yang diberlakukan APWI ke satu operator merupakan kesalahan fatal, yang mempercepat kehancuran wartel-wartel,” katanya.

Ditambahkan, sangat tidak kompetitif produk yang dijual wartel, sampai-sampai untuk menyewa tempat usaha dan menggaji pegawai tidak mungkin dilakukan pengusaha warel. Akibat margin laba yang bisa mereka ambil terlalu kecil.

Oleh karena itu, wartel yang masih bertahan saat ini bisa dipastikan tempat usahanya merupakan milik sendiri. Itu pun umumnya dibantu usaha lainnya di samping wartel, seperti jualan pulsa atau warung.

“untuk sebagian yang memiliki modal, mengganti wartelnya menjadi warnet. Akan tetapi, itu pun sebenarnya tidak terlalu menarik karena biaya listrik saat ini terlalu mahal,” katanya.

Menyinggung keberadaan organisasi APWI dalam kondisi seperti itu, Eddy mengatakan saat ini APWI Jabar masih hidup untuk mengurus hak-hak anggota dalam pembagian hak biaya airtime, seperti yang tertuang dalam Keppmen (KM) No.46/2002 tentang Penyelenggaraan Wartel.

Menurut dia, berdasarkan perhitungan tahun 2005, hak air time yang harus dikembalikan kepada anggota APWI secara nasional nilainya kurang lebih Rp410 miliar. Jumlah tersebut belum sepenuhnya dibayar dan masih bersisa Rp62 miliar. Anggota APWI Jabar sendiri minimal mendapat 20% dari hak tersebut.

“Kami ingin semuanya beres, pembayaran hak air time selesai, keuangan APWI Jabar diaudit, pertanggungjawaban organisasi tuntas. Baru boleh APWI Jabar bubar,” katanya. (A-135)

Read more.....

Telkom Raih Best of Best Perusahaan Idaman 2009

Kontan (08/12/2009) – Perusahaan penyelenggara TIME (telecommunication, information, media, and edutainment), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), terpilih sebagai Best of the Best Perusahaan Idaman 2009.

Dalam ajang CEO dan Perusahaan Idaman Award 2009 yang digelar majalah Warta Ekonomi, Jumat (4/12), Telkom berhasil menyisihkan 14 perusahaan nomine lainnya, yaitu PT Astra Internasional Tbk, PT Pertamina (persero), PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Garuda Indonesia, dan PT Unilever Indonesia, PT Medco Energi Internasional Tbk.

Selain tiu, PT Indosat Tbk, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Bakrie & Brother Tbk, PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Bank Negara Indonesia Tbk.

Selain itu, Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah, terpilih sebagai CEO Idaman 2009 hasil survei pembaca Warta Ekonomi.

Penghargaan Perusahaan Idaman diberikan kepaa perusahaan yang diidam-idamkan untuk tempat bekerja dan meniti karier favorit oleh 986 responden yang tersebat di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Survei dilakukan pada 1-5 September 2009. Hasilnya Telkom menjadi perusahaan yang paling banyak dipilih responden.

“Kami bangga dan berterima kasih atas penghargaan-penghargaan tersebut yang merupakan wujud nyata pengakuan terhadap kerja keras dan dedikasi manajemen dan karyawan Telkom yang dilakukan selama ini,” kata Vice President public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia di Jakarta, kemarin.

Secara keseluruhan responden memilih Telkom karena dianggap memiliki standar gaji tinggi bila dibandingkan dengan perusahaan lain serta memberikan fasilitas tunjangan yang baik kepada karyawannya.

Telkom juga dianggap sebagai perusahaan terbaik di industrinya dan dipersepsikan sebagai perusahaan besar, terkenal, dan memiliki manajemen bagus.

Menurut Eddy, pengakuan sebagai Perusahaan Idaman 2009 menunjukkan Telkom menjadi tempat pilihan dalam mendedikasikan ilmu dan menghasilkan karya-karya inovatif dan komersial yang berguna bagi keamjuan bangsa. (AT/E-4)

Read more.....